Kamis, 01 Januari 2015

Radio Online

Yaa.. posting nggak penting lagi..
Sodara-sodara, berhubung sayah lagi bete, dan sudah jam 1 lewat 39 menit, tak jelas mau nulis apa, dan pikiran jadi terganggu karena overlapping dengerin lagu-lagu  masa kini dengan tulisan yang harus dibaca, so akhirnya berkelanalah sayah di dunia entah berentah ini, mencari-cari sesuatu yang layak untuk didengarkan sambil membaca, tanpa mengintervensi kalimat yang sedang dibaca.
Mau ngomongin apaan siih?
Nganu lhoo... sayah ini manusia yang sangat audiomusical, makesute, sangat doyan mendengarkan lagu ketika bekerja (hadooh, lebay banget...!!).  Mendengarkan lagu membuat saya semangat, dan nggak kerasa waktu berlalu, hati gembira riang bersenandung, tapi kerjaan ga beres-beres.. haiya...!!
So, sudah lama, satu taun lebih saya sangat panatik sama radio-radio online. Alesannya mengapa saya lebih suka dengerin radio oline daripada ngumpulin lagu n bikin playlist sendiri adalah :
  1. Males mikir (bikin play list sendiri kan mikir, milih-milih lagu mana yang cocok)
  2. Males ngeklik dan nyari (sama lah kayak alesan nomor 1)
  3. Bosen (bosen karena lagunya itu lagi itu lagi.. mosok tiap hari mesti nyari donlotan lagu baru)
  4. Kuper (konon orang bisa diukur hidup di generasi mana berdasarkan lagu favoritenya, misalnya kalo doyannya lagu Elvis Presley, Frank Sinatra, sudah pasti ditebak, sudah opa-opa dan oma-oma)
  5. Berdasarkan alesan no.4, maka sayah nggak mau dibilang kuper sama mahasiswa (waduuh.. LUPUS, alias lupa usia), maka saya ngikutin juga lagu masa kini, selain, setelah didenger-denger ternyata uenak.. uenaak juga lagunya.. nggak kalah sama Billy Joel, Earth Wind and Fire, Michael Jackson, Elton John, atau yang rada-rada tengahan seperti George Michael, Sade Adu, AHA, Duran-duran, dlsb laah.. 
  6. Menghargai royalti para pemilik hak cipta, dgn nggak donlot lagu bajakan (kecuali kalo seneng banget lagunya... ha..ha.. ), ini pasti alasan yang paling LEBAY....!!
So.. kesimpulannya, saya akhirnya terpikat pada beberapa radio online. Dari sekian banyak radio online, ada satu "gerombolan" radio yang paling sering saya dengerin yaitu bigRradio.  Dulu dengernya lewat channel shoutcast.com, trus ternyata mereka bikin flash player sendiri, sehingga bisa diakses langsung, trus juga pernah dengernya lewat WinAmp player (tapi rada ribet nyatet alamatnya, karena masih pake IP Address gitu laah).  So, cara yang paling praktis ya dengan buka flash-player  melalui situs mereka.
Naah, big R Radio ini kumpulan beberapa stasiun radio yang masing-masing punya genre dan stasiun sendiri-sendiri. Ada beberapa stasiun favorite yang sering saya denger, antara laen :
  • Big R Radio 100.7 The Mix : paling sering didengerin, musiknya terkini bangets.. melalui stasiun ini kita bisa tau lagu apa yang saat ini sedang laris manis di pasaran, macam lagu (nista, tapi video clipnya memukau) take me to church Hozier, lagu (heboh) Chandelier, lagu romantis macam thinking out loud Ed Sheeran,  lagu gembira seperti Boom Clap nya Charlie CXC, suara sekseeh Summer dari Calvin Harris, dan banyak lagi. Kadang-kadang nyelip sih lagu jadul, dan anehnya lagu jadul yang paling sering nongol tuh lagu Madobek, eeh.. Madona, jaman album terakhir yang sukses tuh Material Girl
  • Big R Radio 101.1 The Beat, ini mirip lah genre nya dengan 100.7, lagu-lagu terkini dicampur lagu dulu beberapa sajah.
  • Big R Radio 101.6 Adult Warm Hits : sesuai dengan nama, sebenernya ini stasiun radio dengan lagu-lagu yang paling cocok dengan usia daku. Rada-rada oldies, mellow dikit, ada juga masa kini, tapi tidak terlalu menghentak-hentak seperti dua stasiun sebelumnya. Nih tipikal lagu yang cocok didengerin di ruang tunggu kantoran atau restoran gitu laah.
Trus, berhubung dari kemaren tuh ternyata kalo lagi baca paper boso londo, trus dengerin lagu boso londo malah bikin otakkoe kusut, karena sulit mengendalikan pikiran, antara pengen nyanyi sama pengen baca, dan seringnya nggak lanjut baca, malahan cari link buat donlot lagu .. (kheuseus untuk lagu-lagu yang benar-benar sulit dilupakan, dan sayangnya banyak lagu kayak gitu..), maka akhirnya diriku back to basic, kembali ke masa lalu, masa ketika diriku masih muda belia, masa dengerin lagu adalah kemewahan, radio-radio cuma ada sampe jam 12 malem, kalopun ada yang lebih dari jam 12, yang dengernya kebanyakan satpam, bidan, suster, dlsb (ketaun dari kirim-kirim salam yang dibacain oleh penyiarnya), maka aku pada masa itu akhirnya banyak tersesat di dunia musik klasik.
Neooon? musik klasik?
Ya iyalaah.. meskipun sekarang aku sering denger lagu brang breng brong, sebenernya jaman dahulu kala, sejak masih duduk di SD, aku sudah kesengsem sama musik klasik.  Radio kesayanganku, yang waktu itu cuma berukuran segede telapak tangan, bertenaga batere kecil 2 buah, tiap malem Jumat jam 20.00-21.00, selalu nempel di telinga, karena digunakan buat dengerin musik klasik dari stasiun radio MAESTRO, sebuah radio yang beralamat di Jl. Gandapura nomor sekian.. ,Dari hasil nguping acara musik klasik dari radio tersebut, aku jadi kenal nama-nama seperti Vivaldi, Bach, Chopin, Mozart, dlsb.
Kecanduan musik klasik agak bergeser ketika SMP, ke arah berbau jazz-jazz an.. itu pun gara-gara suka minjem kaset lagu Jazz (inget.. jarang dikembaliin loo), semacam Late Night Jazz, Jazz Vocal, Japan Jazz, dan laen-laen.. lagunya semacam.. Mermaid (Tatsuro Yamashita), so much in love with you (Sheena Easton) yang super galau itu, dan tentunya si suara super soft dan bikin ngantuk, Michael Franks (the lady wants to know, Antonio's Song, dlsb laah).  Selama SMP, aku menghabiskan waktu berjam-jam nongkrong di meja, mendengarkan lagu-lagu super galau tersebut, sambil menggambar atau menulis catatan si Boy.. ha..ha.. Tentunya dicampur-campur juga dengan album kompilasi musik instrumental semacam Nini Rosso (dominan trompet), piano oleh Richard Clayderman, atau yang ringan dan nyantai dari Philadelphia Philharmonic Orchestra
Lha.. pas SMA, balik lagi kecanduan klasik, gara-gara nemu kaset Vivaldi "tak terawat" di rumah temen, pas disetel di rumah.. alaaa maaak..ruaar biasa nikmatnya.. meskipun waktu itu aku nggak tau persis apa judulnya, lha wong kasetnya juga sudah tak berumah, tak bersampul, dan tak bermerk, cuma ada tulisan spidol "Vivaldi".  Belakang baru tau kalo musik super enak dari Vivaldi tersebut berjudul Four Seasons... Setelah itu, jadilah aku pemburu kaset klasik yang memang rata-rata "tidak dibutuhkan" di rumah temen-temen. Dari beberapa hasil buruan tersebut aku dapet Chopin, Mozart, dan yang paling laris manis tentunya seri "Semi Classic".   Mula-mula minjem satu, eeeh taunya enak, minjem lagi satu, minjem lagi .. minjem lagi.. sampe ada 4 kaset, dan (SADISnya) nggak aku balik-balikin. Tooh percuma, dibalikin juga ga pernah didengerin sama yang punya.. (membela diri..), ini kan kaset babehnya, dan mungkin babehnya dah bosen juga ngkali..
Ini mau ngomongin radio atau ngomongin selera musik siii??
Yasud, back to basic.... naah berhubung malem ini aku lagi butuh lagu-lagu yang tidak merusak konsentrasi, maka berkelanalah aku ke radio maya, dan nemu stasion keren berikut:
Accuradio : Bisa buat dengerin satu album penuh, cari aja keyword yang tepat, macam guitar, jazz, classic, dlsb. Cuma kalo pengen puas, kudu rada bikin akun dulu... Di stasiun ini nemu beberapa album musik klasik yang lumayan misalnya : Vivaldi, Mozart, dan 101 classic, yang cucok buat kompilasi musik klasik populer. 
Oh ya.. di kompilasi 101 Classic ini banyak lagu klasik ngetop lho.. kayak yang sering kita denger di pelem-pelem seperti Nocturne No.2 (Chopin), The Nutcracker (Tchaikovsky), Air on G String (Bach), Arrival of the Queen of Sheba (Handel), and many more.
Grooveshark : sama kayak Accuradio, didengerin per album, cuma kalo rajin, kita bisa bikin kompilasi dari beberapa album, kalo pengen lebih leluasa, kudu bikin akun juga. Nih contoh list untuk yang gitar klasik
Tuuh kan.. sudah 03.25 dan blum beres juga kerjaan..
Ya sud. postingnya sekian sajah..

Sabtu, 22 Maret 2014

Selamat Jalan Faldy

Jadi inget duluuuu banget, gimana ya rasanya kelihangan teman, gimana ya rasanya ketika orang yang lebih muda dari kita, pergi mendahului kita?  Konon rasanya lebih sakiiiiit daripada melihat yang sudah tua.  Konon kalo yang sudah berumur, kemudian pergi meninggalkan kita, kita bisa lebih cepat ikhlas....daripada yang masih muda.. ada rasa... aduuuh.. susah banget untuk dikatakan, susah banget untuk bisa ikhlas... meskipun ya harus ikhlas juga..

So, ini tentang faldy, lengkapnya Rifaldy Hafidz..
Siapa Rifaldy?
Pertama kenal Faldy, sebagai teman sekelas kakak waktu kelas satu di SD BPI dulu.  Hari-hari pertama sekolah dimana anak-anak masih belum bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya, banyak yang masih suka nangis, takut ditinggal dlsb.   Hari itu ibu inget sekali, ibu menunggui kakak dari samping jendela. Hari itu hari pertama ulangan. Di sebelah ibu duduk seorang ibu-ibu yang juga berkali-kali melongokan kepalanya ke dalam kelas, memantau anaknya.  Kemudian hari ibu kenalan dan ternyata anaknya bernama Rifaldy. 
Kakak dan Rifaldy terus sekelas sampai mereka kelas 3 dan kakak pindah sekolah.  Selama itu, selalu ada-ada saja cerita lucu tentang Rifaldy, yang diceritakan kakak di rumah. Rifaldy anak yang ramah, lucu, setia kawan, tidak sombong dan suka membela yang sedang direndahkan oleh teman-temannya.
Sering ibu ikut ketawa mendengar komentar-komentar faldy,  yang disampaikan kakak. Misalnya, sekali waktu kakak bercerita, bahwa banyak teman-temannya yang asbun, alias asal ngomong, mengomentari tentang personil Kangen Band, yang konon dulunya punya profesi beragam. Ada yang bilang eks pengamen, ada yang bilang eks pedagang kaki lima.. eeeh.. ada teman kakak yang nyeletuk : "Bekas Maling ngkali...!!". 
Segera faldy menimpali..."Maling apaaaaaan??? Maling popok??", saking kesalnya faldy dengan temennya yang asal jeplak tadi..
Memang faldy orang yang sederhana, simple, senang melucu, ramah dan tidak suka jika temannya dipojokkan. Dia tidak pernah memilih-milih teman, dan cenderung setia kawan. Faldy suka mencairkan suasana jika ada temennya yang sedang ribut...

Faldy, kelas tiga SD, selalu bercanda di kelas

Faldy, berpose bersama teman-teman, Kelas 3 SD.
Sekali waktu, kakak pernah pulang membawa mainan, monyet-monyetan kecil, lucu..kira-kira segede jempol, ada dua warna, yang satu biru, yang satu lagi ijo. Kata kakak, kakak beli dari Faldy, harganya dua ribuan... Sampe sekarang maenan tersebut masih menghias lemari mainan, dan menjadi mainan favorit adek Ayu, karena ekspresi monyetnya lucu.
Setelah kakak naek kelas 4, kakak berpisah dengan Faldy karena pindah sekolah. Eeeh, tak disangka, di SMP, kakak ketemu Faldy lagi.
"Bu, inget nggak sama faldy, temen Bilal dulu waktu SD ?"
"eeh yang mana ya..?"
"Ituuu yang suka melucu dan humoris...?"
"Oh iya.. ibu inget, kenapa?"
"Kita ketemu lagi bu, di SMP"
"Waah, ibu ikut seneng nak, apa dia masih inget sama kamu?"
"Justru dia yang nyapa duluan.. anaknya baik dan nggak sombong bu..!!"
Ya, ibu tau, Rifaldy memang baik dan tidak sombong. Banyak temen-temen kakak yang dulunya pernah satu SD atau satu TK, rada-rada jaim nggak terlalu suka nyapa ke kakak.  Tapi Rifaldy beda, begitu ketemu, mereka langsung akrab kembali.
Tetapi sayang, keakrabannya tidak berlangsung lama, karena perbedaan minat dan teman sepermainan. Kakak Bilal sibuk dengan temen-temen main bolanya, sedangkan Rifaldy mungkin bergabung dengan teman-teman lainnya.
Ibu mungkin nggak akan inget faldy, hingga suatu sore, ibu pulang, tapi kok kakak nggak ada di rumah.  Kata ayah, kakak nengok temennya di rumah sakit Borromeus.  Tumben, ibu pikir.. apakah temennya yang kemaren sakit Typhus??  Kata ayah, bukan, entah sapa, ayahnya juga nggak terlalu nanya detil, siapa yang ditengok, pokoknya konon sakitnya parah dan kakak keukeuh mau nengok, meskipun awalnya dilarang Ayah.
Setengah jam kemudian kakak pulang, wajahnya keliatan kusut dan tegang. Ibu tanya.. siapa yang sakit?
"Faldy bu... faldy... tabrakan.."
"Faldy mana??"
"Faldy.. temen Bilal dulu.. waktu SD? Inget nggak bu??"
 Oooh iya.. ibu inget.. fadly yang suka ngelucu itu kaaan...? Faldy yang humoris..?
Yaaa ibu.. faldy kecelakaan....!!
Masya Allah...!!
Lalu mengalirlah cerita kakak... Konon, Kamis 20 Maret, sepulang sekolah, Faldy dan teman-temannya bermaksud mampir ke rumah salah seorang temannya di daerah Sadang Serang.  Mereka naek motor bertiga. Faldy duduk ditengah.  Helm cuma satu dan itu motor Faldy.  Yang pake helm tentunya yang mbawa motor.  Kira-kira di depan SMP-SMA Nasional, mereka berpapasan dengan motor dari arah yang berlawanan, terjadilah tabrakan yang tidak bisa dihindari. Entah bagaimana cerita persisnya, pokoknya faldy terjatuh dan mungkin terlindas mobil atau motor yang lain.  Dua temannya hanya luka ringan, yang mbawa motor nggak apa-apa, yang duduk di belakang Faldy juga nggak apa-apa.  Tapi Faldy terluka parah, kepalanya berdarah hebat, konon terlihat luka menguak, bahunya juga disinyalir cedera.  Penduduk dan teman-teman segera membawa faldy ke rumah sakit, mereka mencegat angkot yang lewat. Rupanya ada beberapa motor teman-temannya yang berombongan mau mampir ke salah seorang rekannya tadi. Mereka beramai-ramai membawa faldy dan dua temannya ke Borromeus.  Sampe di Borromeus, faldy segera dirawat intensif. Orangtuanya dihubungi. Ayah dan keluarganya segera datang.  Ketika kakak pulang, konon faldy sedang menjalani operasi yang ketiga. Selama kakak menengok dan menunggu, faldy sudah menjalani dua kali operasi.  Menurut kakak, yang sempat mendengar penjelasan pak Dokter, nampaknya cedera di kepala faldy sangat hebat sehingga dokter juga tidak yakin akan hasil operasinya. Peluangnya 50%, dan kemungkinan akan cacat mental, kalaupun pulih, demikian penjelasan pak Dokter. 
Mendengar itu semua, kakak dan teman-temannya syok. Tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya, bahwa itu akan dialami oleh Faldy, teman mereka, yang saat istirahat siang masih bercengkrama dengan mereka.  Bahkan kakak sempat ngobrol ketika berpapasan di toilet, hanya faldy tampak agak pendiam.  Karena waktu sudah semakin malam, akhirnya kakak pulang. Esoknya, satu sekolah mendoakan faldy.. perwakilan guru mengunjungi orangtua faldy di Rumah sakit, menyatakan keprihatian dan menyampaikan doa dari teman-temannya.  
tweet dari teman-temannya....

Jumat siang ibu sempetin nengok.  Melihat faldy tergeletak di tempat tidur, dengan kepala di balut perban, selang dimana-mana, ibu nggak kuat menahan sedih. Ibu nggak ngebayangin seperti apa perasaan ibunya.  Semoga mereka diberi kekuatan dan ketabahan.... Ibu sempat ngobrol sedikit dengan suster. Menurut suster, memang keadaannya sekarang stabil, denyut jantung teratur, tapi kondisinya koma, dan keliatannya belum ada perkembangan ke arah yang baik, suster bilang, masih dalam keadaan kritis. Oaalaah.. .menurut kakak yang langsung menengok kamis kemaren, luka di kepalanya cukup parah, kepalanya bengkak hebat dan yang terkena benturan seperti yang berlubang. Darah membasahi seluruh sweater yang dipakainya, sungguh pemandangan yang mengguncang kakak dan teman-temannya.
Malamnya kakak gelisah, semalaman teman-temannya saling berkirim kabar via BBM, Line, Path dan media lainnya. Beredar kabar simpang siur.  Konon faldy sudah meninggal, tapi konon ada yang bilang belum. Rupanya alat pemantau detak jantung sempat berhenti beberapa saat, tapi kemudian terlihat denyutan jantung kembali... Semalaman kakak gelisah mengenang faldy, sampe-sampe nggak bisa tidur..
Pagi ini, waktu ibu liat status BBM kakak, bertuliskan Innalillahi..Selamat Jalan Faldy...!! Ibu terhenyak, akhirnya faldy pergi juga.. 

Salah satu postingan temannya di ask.fm
Rasa sedih langsung menjalar ke setiap persendian, rasa pilu dan linu juga menjalar di sekujur badan ibu. Ibu membayangkan, betapa sedihnya orangtuanya, betapa masih panjang perjalanan seorang Faldy.  Ibu akhirnya berkelana, mengunjungi situs teman-teman faldy, melihat-lihat respon temannya. Nampaknya semua teman-temannya terguncang, mereka berduka-cita, mereka benar-benar kehilangan. Simak saja beberapa tanggapan mereka. Bahkan sang pacar, merilis twit ke Ridwan Kamil, memohon bantuan doanya...  Tapi akhirnya Allah SWT memanggil faldy lebih cepat. Itulah skenario terbaik buat Faldy, tetapi jauh di dasar hati ibu, ada semacam pelajaran.. kapan yaaa orang tua itu berhenti mengijinkan anak-anaknya naik motor. Mereka baru 15 tahun.  Mereka hanya membuat "kesalahan kecil" yaitu naik motor bertiga dan tidak pake helm. Sedangkan kesalahan besar, pastilah mereka punya, misalnya... nggak punya SIM. Oaalaaah.. resikonya dua, ditabrak orang atau menabrak orang. Memang siih.. semuanya sudah takdir Allah SWT, tetapi.. andaikan kita bisa mencegah.. andaikan kita bisa mengajari mereka agar jangan mengendarai motor sampai mereka cukup umur, minimal mereka lebih siap di jalan.
Menurut kakak, ada beberapa sifat umum teman-temannya kalo naek motor. Begitu motornya disusul, mereka segera ngotot ingin menyusul. Kakak juga pernah sekali mengalami kecelakaan ringan, jatuh dari motor ketika dibonceng temennya. Konon temennya ingin menyalip motor lain.  Sejak itu, kakak kapok dibonceng motor temennya. Memang.. semuanya sudah suratan takdir, tapi.. alangkah baiknya jika kita cegah anak kita naik motor sampai mereka cukup dewasa untuk mengendarainya.
Bukan sekali ini kisah anak celaka naik motor.  Sebelumnya ada berita, seorang anak, umur 15 tahunan juga, meninggal seketika akibat kecelakaan di daerah Lembang. Padahal beberapa hari sebelumnya anak tersebut diliput di koran lokal, yang dengan bangganya memberitakan bahwa anak tersebut bermain cemerlang di sebuah kompetisi sepakbola. Hilang sudah.. satu calon pemain hebat... menebar nyawanya di jalan..!!

Faldy (kanan) yang sekarang sedang gemar mendaki gunung. Foto ini keliatannya di gunung Papandayan (sumber akun twitter @rifaldyhafidz
Kembali ke Faldy, ibu bukannya nggak ikhlas, atau ingin menyalahkan orang lain. Hanya rasa sedih di dalam hati ini begitu mendalam... masih terbayang keceriaannya, masih jauh perjalanannya, masih banyak cita-citanya.. tapi semuanya berakhir secara mendadak, sejak Kamis, 20 Maret, siang hari.  Selamat jalan Faldy, semoga Allah memberikan tempat yang terbaik disisiNya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan semoga apa yang terjadi pada dirimu menjadi pelajaran bagi semua, bagi anak-anak dan orang tua yang lainnya.
 Aneh yaaa... sedihnya masih terasa hingga berhari-hari.. sampe-sampe ibu nggak kuat tiap liat video ini..



Minggu, 02 Maret 2014

Belajar Tari Bali


Memutuskan apa yang pertama kali ingin dikenalkan kepada anak memang susah-susah gampang. Tapi, berhubung sejak dulu ibu berprinsip ogah mengenalkan kepada anak les-lesan yang berbau pelajaran, seperti les kumon, les bahasa Inggris, de-el-es-be, maka buat adek, ibu putuskan ingin mengenalkan tari Bali. 
Lho kok tari Bali? Padahal nggak ada satupun di keluarga ibu dan ayah yang menekuni tari atau menjadi seorang penari. Ibu aja nggak bisa nari, ayah apalagi. Mendadak tiba-tiba suddenly ibu pengen adek Ayu belajar nari Bali? Apa alesannya?
Alesannya, ya simple aja, sebenernya ibu pengen anak-anak ibu tuh menguasai salah satu kesenian, entah maen musik, entah nyanyi atau nari. Bukan buat prestasi, atau buat keren-kerenan. Hanya sekedar penyeimbang, melatih otak kanan, melatih ketrampilan, sekedar refreshing, de-el-el.  Naah, tiba-tiba ibu tertarik dengan tari Bali, dengan alasan, ini tari tradisional Indonesia yang sudah menjadi trade-mark Indonesia di mata dunia. So.. selaku anak Indonesia, menurut ibu sih, nggak ada salahnya kan kalo mempelajari budaya dan kesenian bangsa sendiri. 
Lha kenapa nggak nari yang lain? tari Jawa, tari Sunda, tari Jaipongan? Alesannya.... kayaknya adek lucu deeh kalo udah pake kostum nari Bali.  Sebenernya sebulan yang lalu waktu adek sama ibu maen ke Taman Lalu Lintas, kita melihat sejenis pasanggiri tari Jaipongan gitu. Pesertanya anak-anak kecil, mereka langsung lari-lari setelah selesai nari, lengkap dengan kostum tarinya, mereka sibuk naek turun perosotan, maen ayunan, dan laen-laen. Adek keliatannya takjub melihat mereka menari, plus juga melihat kostum mereka. Trus ibu tanya, adek mau belajar nari? Adek mengangguk. Tapi persepsinya ya tari balet, maklum pengaruh tontonan dan pergaulan mungkin... ke -barbie-barbie- an.. ha..ha...ha.. 
Trus, bagemana cara ibu meyakinkan adek untuk belajar nari Bali. Ibu kasih alesan, pertama, kalo tari Balet itu ribet dan mahal. Kudu beli sepatu laah, rok rumbai-rumbai lah, baju senam laaah. Blum nanti misalnya keterusan seneng, kan ribet, bajunya ngetat banget gitu.. (alesaaan... padahal, takut tak mampu beli kostumnya..he..he.). Lagian, dari surfing-surfing ke google, kayaknya rada-rada elit dan borju gitu laah. Ibu rada-rada males. Rata-rata biayanya mahal, sekitar 100-200 rebuan gitu. Nah, kalo nari Bali, modal awal nggak usah bawa macem-macem. Cukup pake sarung dan iket pinggang aja. Ibu yakinkan adek bahwa sebaiknya belajar nari mumpung masih kecil. Nanti kalo udah gede kan malu, pake baju kelek kemana-mana, gual-geol di depan orang banyak. Nanti kalo udah gede, tinggal ngajarin anak kecil nari aja.. Nampaknya alesan ibu bisa diterima adek, so adek setuju-setuju ajah.
Langkah berikutnya mencarikan informasi tentang tempat belajar tari Bali. Kalo jadwalnya oke, lokasinya oke, biayanya terjangkau, dan sekian kondisi yang mendukung lainnya, ibu akan mempertimbangkan adek untuk ikut tari Bali. Tanya-tanya mbah Google, ternyata ada beberapa tempat belajar nari Bali di Bandung. Beberapa diantaranya:
  • Githa Saraswati, Jl.Dr. Otten no.15 Bandung.  Ini tempat nari yang udah lama banget kayaknya. Setau ibu, sejak ibu SMP ada temen ibu yang bener-bener serius nari Bali disini dan konon sudah sering manggung dimana-mana, menang berbagai kompetisi tari Bali. Cuma nggak tau tuh gimana ceritanya sekarang.. he..he.. Tapi ibu nggak bisa milih tempat ini dengan alesan jauh dari lokasi tempat tinggal ibu dan susah rute angkotnya.
  • Sanggar Tari Bali Asmarandana,Jl Situ Cileunca 2, Cijagra.  Dari blog-nya nampaknya nggak ada info terbaru, jangan-jangan udah tutup lagi.. Lagian lokasinya jauh banget dari tempat ibu. So.. nggak jadiii aaah... 
  • Sanggar Tari Natya Nataraja, Gelanggang Generasi Muda  (GGM) Bandung, Jl. Merdeka. Sebenernya boleh juga niih, deket lokasinya, murah lagi, Konon buat ikutan cukup bayar biaya pendaftaran 60 rebu, trus bayar les narinya 75 rebu, narinya 2x seminggu. Rabu dan Sabtu, jam 14.00-17.00.  Muraah banget loo biaya segitu. Cuma, waktunya ibu rada-rada susah. Rabu jam 14-17 kan ibu lagii dimanaa gitu, kudu pulang dulu, jemput adek, trus kesono.. Hm.. rada-rada repot. Alternatif kedua latihan di gedung RRI Bandung, Jl. Diponegoro, hari Minggu, jam 14-18 (gileee 4 jam, apa ndak capek tuuh).  Tapi lagi-lagi rada ribet ke arah sono hari Minggu maah, apalagi siang, banyak godaannya. 
  • Sanggar Tari Sekar Tampaksiring, Jl. Ciung Wanara no.18.  Naah ini dia, dekat dan hemat. Kayak slogan supermarket aja. Segera ibu buka blognya, trus baca-baca infonya. Ternyata latihannya cuma 1x seminggu. Minggu pagi aja, jam 8-10 an. Cucok laah, dekat dengan tempat kita, Biaya pendaftaran juga nggak mahal, cuma 60 rebu, dan biaya les bulanannya 60 rebu juga. 
So suatu sore ibu sempetin mampir ke sanggar ini. Ternyata sanggar ini merangkap asrama mahasiswa Bali. Jadi waktu ibu mampir, berhubung bukan saat latihan, ruang tamunya penuh dengan para mahasiswa bertaburan. Hahaha... ibu tanya-tanya info dan dapet info bahwa ibu bisa mulai membawa adek latihan hari Minggu. Ternyata latihan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pemula dilaksanakan hari minggu jam 07.30-09.00.  Sesi mahir jam 09.00-11.00.  Biaya pendaftaran tetap 60rebu cuma biaya les bulanannya naek dikit, jadi 75rebu. Tapi ya relatif murah laah segitu.  So ibu putuskan untuk mendaftarkan adek Ayu ke sanggar ini.

Penampakan Sanggar Tari Sekar Tampaksiring, Jl. Ciung Wanara no. 18 Bandung

Para orang tua yang sedang menunggu anak-anaknya latihan tari

Ini latihan yang ke berapa ya??? Masih pada kaku gerakannya..he..he..
Latihan pertama ayu nggak bawa apa-apa, karena begitu daftar langsung latihan. Konon menurut kakak pembina, sebaiknya minggu depan ayu membawa kaen dan staples pengikat kain. Tari pertama yang harus dikuasai adalah tari Pendet. Tiga kali latihan, yeey.. masih kaku banget laah. Konon ada yang sudah latihan 3 - 4 bulan ya masih kaku. Mungkin pengaruh usia juga. Konon kata gossip, usia 5-6 tahun belajar nari Bali itu masih rada susah. Yaaa iyaaa laaah, wong ngajarin tari pak-tani dan bu tani buat anak TK aja susahnya minta ampyuuun. Apalagi ngajarin nari serius seperti tari Bali. 

Kakak-kakak pengurus sanggar lagi sibuk ngurusin administrasi, ngabsenin, nyatet iuran, dlsb. Tampak belakang sederetan piala hasil capaian sanggar, bukti keseriusan pengelolaan sanggar tari.
Sekitar sebulan latihan, eeeh konon mereka akan membuat semacam pentas bersama, yang konon akan disatukan dengan agenda kegiatan Mahagotra Ganesha, unit kesenian tari Bali, milik mahasiswa ITB.  Konon pentas ini akan diikuti oleh berbagai sanggar tari Bali yang ada di Bandung. Mungkin semacam ujian kenaikan tingkat.  Pentasnya sendiri diperkirakan bulan April 2014. So.. frekuensi latihan terpaksa ditambah jadi 3x seminggu. Tapi yaa namanya nak-anak.. tetep aja masih pada kaku. Tapi pentas ini kesempatan emas. Kesempatan anak-anak itu berani tampil di panggung.. nggak peduli narinya udah bener apa belum.. he..he....Barengan Ayu nari, ada sekitar 6-8 anak yang seumuran. Rata-rata berusia 5-7 tahun, dan masih duduk di TK atau kelas 1. Ada dua tiga anak yang sudah kelas dua, dan mungkin sudah berlatih lebih lama. Keliatan gerakannya sudah lebih luwes. Bahkan ada juga mungkin yang sudah SMP atau SMA, tapi baru belajar menari. Sudah tentu mereka lebih cepat belajar dan lebih luwes.
 

Eeeh... ternyata guru utamanya bapak-bapak lho. Pak Nengah, yang konon mantan penari profesional

Kadang-kadang diiringi live music juga, yang langsung ditabuh oleh sang Pelatih.
Tapi, biar bagemanapun ibu tetap seneng mengantar adek latihan nari. Nggak peduli gerakannya masih ribet... yang penting kuncinya nggak boleh bosen. Ibu bayangin, mungkin kegiatan ini akan terus berlangsung bertahun-tahun. Mungkin sampe adek tamat SD, nggak tamat-tamat belajar narinya. Lhaa wong untuk menguasai satu tarian perlu waktu berbulan-bulan. Intinya, nggak ada ketrampilan yang instant. Semuanya perlu waktu, ketekunan dan pengorbanan.  Ibu nggak mikirin soal berbakat atau tidak berbakat. Toooh targetnya bukan prestasi, tapi yang penting mampu menguasai hingga level tertentu. Sudah cukuplaaah.. Target lainnya, ya minimal adek punya bekal ketrampilan sederhana dan mengenal salah satu budaya bangsa sendiri.


Cuplikan latihan tari yang ke berapa yaaa.. ke lima kayaknya

Cumaaa... ada cuma nya niih.. Waktu awal-awal, supaya adek semangat latihan narinya, pulang latihan ibu selalu menjanjikan adek buat naek kuda. Tapi lama-lama tekor juga euy. Biaya naek kudanya lebih mahal dari biaya tari bulanan.  Lah itu sekali naek kuda bayar 20 rebu satu puteran. Adek nggak pernah merasa cukup satu kali puter. Minimal 3x, pernah sampe 5x. Deeeuh.. keenankan si penjaga kudanya dooong. 

 
So.. setelah beberapa minggu, ibu berusaha mengalihkan kegiatan naek kuda ini dan Alhamdulillah sukses...(jadi nggak perlu obral janji naek kuda lagi setelah nari).

Kamis, 17 Oktober 2013

Dialog, dialog dan dialog...

Cenaaah..... paling sulit itu menghadapi anak yang lagi ababil, alias abege labil....
Cenaaah..... kita kudu sering-sering dialog....
Cenaaah..... masa segitu lagi rawan-rawannya...
So, meskipun posting ibu kumat-kumatan.. kalo lagi mau posting ya posting, kalo nggak ya nggak, dan yang diceritain juga nggak urut... 
Jadi sebenernya mau nyeritain apa siii...??
Gini looo, ibu cuma pengen cerita, potongan-potongan dialog yang sering ibu lakukan dengan kakakbilal. Semakin remaja kayaknya semakin banyak waktu yang harus ibu luangkan untuk berdialog dengan kakakbilal.
Ibu jadi inget....Dulu.. waktu perpisahan kakak kelas 6 SD, pas tamat-tamatan gitu. Kita ada acara syukuran kecil-kecilan di kelas kakak di Sekolah Alam. Duluuu... ibu kan masih so-so-an aktif gitu.. ha..ha.., so ibu ceritanya jadi ketua DK alias dewan kelas. Sebenernya karena yang laen nggak pada mau, so mereka pasrah-pasrah aja dengan kemalasan ibu, yang penting asal ibu masih mau laaah.. Makanya, sebage ketua DK, ketika perpisahan tsb ibu memberikan sepatah-duapatah kata perpisahan... 
Tadinya ibu mau ngomong santai, Kak... eeeh, taunya "terhanyut" oleh perasaan, jadi ibu ngomongnya rada-rada seurieusss dan rada terisak-isak.. ha...ha... lebay pisaaan...
Ibu inget, ibu "cuma" ngomong gini :
Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada bapak dan ibu guru yang sudah bersedia mengasuh dan membimbing anak saya sehingga berhasil menamatkan sekolahnya di sini. 3 tahun lalu, saya putuskan untuk memindahkan anak saya ke sekolah ini, sungguh suatu keputusan yang tidak pernah saya sesali. Apa yang saya lihat dan rasakan, membuat saya tidak pernah menyesali hal tersebut. Di sekolah ini anak saya belajar banyak hal, termasuk bagaimana belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar.
Saya jadi teringat tulisan di salah satu blog mahasiswa saya (sebenernya ini blog isinya curcol banget, tapi saya sukaa  Nah ini tulisan yang bikin saya terkesan...), yang merasa menempuh SD, SMP, dan SMA dengan beban, saya jadi berfikir, apa mungkin saya bisa menawarkan sekolah yang tidak terlalu "membebani" buat anak, tanpa menghilangkan kesempatan mereka menikmati masa-masa indah selain "belajar dan belajar" dalam pengertian kognitif belaka? (jiaah.. sok ngintelek..!!).
Ternyata di sekolah ini saya menemukan hal tersebut. Itulah salah satu pelajaran berharga buat saya selaku orang tua, dan juga kesempatan berharga buat anak saya. Mungkin di beberapa sekolah, mereka memiliki visi dan misi "MENCETAK" siswa berprestasi, lulus dengan nilai tinggi, dlsb.  Saya tidak setuju dengan kata "mencetak", karena menurut saya kalo mencetak itu ya pake cetakan... kalo pake cetakan, ya udah ada cetakannya, kayak kita nyetak batu bata, apapun bentuk asalnya, didedet-dedet.. ditekan, dipaksa, supaya keluarannya sama bentuknya, sama rapinya, sama lekuk-lekuknya.  Menurut saya apa indahnya kalo sama semua keluarannya seperti itu?  Saya lebih suka "MEMBENTUK", karena membentuk itu berarti kita harus memahami bentuk dasarnya, melihat kelebihan dan kekurangan, mengasah kelebihan dan menyamarkan kekurangan. Ibarat batu kali, yang tadinya keliatan nggak berharga, di tangan seorang seniman bisa di"bentuk" menjadi benda seni bernilai tinggi karena sang seniman ini mampu melihat "kelebihan" di batu tersebut yang tidak terlihat oleh orang lain dan menonjolkannya dengan cara mengasah kelebihan-kelebihan tersebut.
Naah, itu yang saya harapkan terjadi pada anak saya. Saya tidak ingin anak saya dicetak, tapi saya ingin anak saya dibentuk. Tolong pahami kekurangannya, tolong kenali kelebihannya, dan tolong bantu dia agar dapat menjadi "benda seni" yang merepresentasikan dirinya sendiri. Dan itu saya lihat sudah lumayan dilakukan guru-guru disini. Beberapa anak, yang sepertinya sudah "putus harapan" di sekolah-sekolah biasa, ternyata berhasil melalui masa-masa sulit di sekolah ini. Itu satu pencapaian yang luar biasa...Untuk itu saya ucapkan terima kasih...
Hiks...hiks...hiks... ibu nangis.... halaaah... sok imut banget yak.... tapi itu dulu kak, 2 taun yang lalu, waktu kakak tamat SD. Sekarang kakak masuk SMP negeri biasa. Dari awal ibu sudah bersiap siaga, makelum lah, tidak banyak yang diharapkan. Lha wong model dan pendekatannya aja berbeda. Jadi ibu sudah berjanji akan back to basic, nggak bakal protes ini itu, kecuali kalo udah keterlaluan banget. So, ibu kembali ke budaya nyantai, kalo bagi rapot nggak banyak tanya-tanya macem-macem ke wali kelas. Cepet-cepet ambil rapot, meneliti sekilas, yang penting nggak ada nilai-nilai gawat darurat, atau laporan-laporan yang bikin ibu ketar-ketir. ya sudah cukuplah..
Ternyata, dua taun di SMP ini kakak cukup beruntung. Pasalnya, selama dua taun tersebut kakak dapet wali kelas yang lumayan baik, menurut ibu. Setidak-tidaknya kalo dibandingkan dengan persepsi "guru" konvensional yang sering ibu temui di sekolah-sekolah laen. Wali kelas waktu kakak kelas satu, meski cukup tegas di kelas, dan sering nyusah-nyusahin dengan tugas yang aneh-aneh, tapi ternyata nggak banyak komentar.  Komentarnya cuma supaya kakak juga memperhatikan pelajarannya, jangan bola melulu. Sang wali kelas juga, ketika kakak naek kelas dua, tidak mencantumkan ranking di rapot. Sang wali kelas menyiapkan kertas terpisah dan menyatakan bahwa beliau memang sengaja tidak menuliskan ranking, tapi kalo ada ortu yang menanyakan, silakan liat di kertas ini. Eeeh, kacaunya tuh kertas akhirnya malah difotocopy anak-anak. Kacaunya lagi, ternyata kakak dapet ranking 7, dengan ranking 1 sampe 6 cewek semua. Jadi aja kakak rada-rada gede hulu..ha..ha.., secara jarang banget belajar. Tapi sebenernya kakak setuju juga tuh nggak mencantumkan ranking, soalnya kata kakak :
Kesian bu temen aku yang di rapotnya tertulis ranking 40, hadoooh.. nggak kebayang gimana malunya dia..!
So, ibu setuju juga dengan pendapat kakak tersebut, emang kasian kan kalo ranking seperti itu tertulis di rapot... apa bener buat memotivasi? atau malah de-motivasi?. 
Tapi, sebagai basa-basi, ibu juga ingatkan waktu kakak naek kelas dua:
Inget kak.. kelas dua pelajaran semakin susah, dan mungkin belum tentu guru itu penuh toleransi atas kegiatan maen bola kamu...!! 
Kakak cuma manggut-manggut...
Naek kelas dua, lagi-lagi Alhamdulillah, kakak dapet wali kelas yang juga baek banget. Awalnya ibu nggak terlalu menyadari kebaekan wali kelas ini, kecuali atas cerita kakak bahwa sang wali kelas tidak pernah mempermasalahkan kalo kakak minta dispensasi maen bola. Seringkali nggak pake surat, cukup ngomong, langsung ngacir. Kalo ada ulangan yang ketinggalan juga, dengan senang hati mereka memberikan kesempatan susulan. Ibu sih seneng-seneng aja.
Trus, tibalah saatnya bagi rapot semesteran.  Seperti biasa, ibu siih singkat-singkat aja ngambil raport kakak. Kalo ortu yang laen biasanya lamaaaa banget curhatan sama wali kelas, ibu sih cuma tanya, gimana rapotnya? ada masalah? 
"Alhamdulillah bu, nggak ada.. nilai juga lumayan bu, nggak terlalu jelek, meskipun Bilal sibuk maen bola".
Ooh, syukurlah, mohon maaf aja bu kalo sering dispen.
"Ooh, ndak apa-apa.."
Eeeh, pas ibu mau keluar, tiba-tiba kakak nyelonong masuk.. penasaran meureun...langsung sambil menyalami tangan wali kelas, kakak nanya..
Gimana bu rapot saya, ada yang jelek nggak bu?
"Nggak, bagus kok. nih liat..!!"
Oh, Alhamdulillah...
"Kamu sih nggak masalah, yang masalah tu si A, B sama C tuh, coba kamu liat, nilainya kayak gini coba..!!"
(eeeh.. kok sang wali kelas malah nunjukin rekapan nilai temen kakak yak?)
Kenapa bu (kakak ngelongokin kepalanya ke daftar nilai yang diunjukin).
"Ini coba.. masak hampir 7 atau 8 pelajaran nih nilainya dibawah KKM, coba tuh kamu tanyain, gimana tuuh, coba kamu ajakin..., apalagi si C tuuuh, kenapa sih jarang banget sekolah.. udah gitu nilainya gini lagi..Ibu khawatir nanti mereka nggak naek kelas"
Oh iya bu, nanti saya kasi tau bu..
"Iya.. tolong ya.. ibu mah udah bingung kudu ngomong apa tuh ke anak-anak itu.."
Iya bu, nanti saya kasi tau bu..
Kakak segera berlalu. Dalem ati ibu heran.. lhoo kok wali kelas malah curhat ke kakak siiih? Emang siapa sih A, B, dan C itu?
Di luar kelas ibu tanya.. siapa si kak? kenapa si ibu malah curhat ke kakak?
"Itu lho bu.. anak-anak asuh Bilal"
Maksudnya..?
"Ya, mereka itu memang sering Bilal awasin bu, si ibu wali kelas yang juga suka minta tolong. Soalnya mereka ini kayak nggak nyadar gitu, pentingnya sekolah, belajar, dlsb. enaaak aja maen game, atau bolos berhari-hari"
Lhaa.. kenapa kamu yang ketiban pulung? 
"Ya soalnya anak-anak itu suka pada curhat ke Bilal, naah kalo udah ngadat gitu, kadang-kadang kalo Bilal datengin, eeh, mereka mau tuh masuk kelas, atau ikutan ulangan. Kalo nggak, yaaa kayak nggak ada kesadaran gitu laaah.. pokoknya meni siga budak leutik kitu laaah.."
Ooooo, jadi kamu itu merangkap pengasuh juga tooh?
Hehehe.... kakak bilal cuma nyengir.
Tanpa ibu sadari, sampelah akhir taun ajaran, bagi rapot kenaikan kelas niih. Ibu siap-siap ambil rapot kakak. Meski rada deg-degan, karena menurut kaka, nilai matematikanya kayaknya jeblog banget (makelum kakak sering bolos sekolah karena maen bola dan jarang latihan), ibu masih nyantai-nyantai aja, karena ibu nggak punya target tertentu.
Giliran ibu yang ngadep wali kelas...
"Ini rapotnya bu.."
Bagaimana bu, bagus nggak?
"Yaaa.. lumayan bu, nggak ada masalah..."
Tapiii, katanya nilai matematikanya jelek ya bu?
"Aaah, nggak kok, nggak parah-parah amat, nggak apa-apa bu, anak kan kemampuannya beda-beda. Mungkin matematikanya kurang.. tapi mungkin ada kelebihan di mata pelajaran lain.."
Iya bu, mohon maaf bu, Bilal tuh memang rada males latihan matematika di rumah..
"Tapi secara umum nilainya bagus bu.. saya mah seneng bu.. Bilal itu suka membantu saya, menasihati temen-temennya, dan anaknya itu sopan bu.. kalo bicara dengan saya sopan sekali... Saya juga menyesal bu, kemaren nggak nonton dia waktu pertandingan final. Saya siih pengen pergi bu, tapi nggak boleh sama kepala sekolah, karena nanti semua pergi, siapa yang di sekolah.."
(ibu wali kelas menunjukkan dukungan penuh atas usaha Bilal membela sekolah di bidang sepak bola).
Oooh, nggak apa-apa bu, saya sudah bersyukur bahwa sekolahnya cukup mendukung minatnya selama ini. Tapi denger-denger katanya kemaren pernah berantem ya bu di sekolah?
(Rasanya ibu pernah sekali denger kakak bilal cerita, bagemana dia akhirnya berantem dengan temennya, tonjok-tonjokan, entah gara-gara apa, konon katanya temennya itu rada-rada aneh dan bermasalah).
"Aaah masa? kapan? saya nggak pernah denger. Selama ini Bilal belum pernah saya denger menimbulkan masalah, mungkin itu anaknya yang mengganggu ke Bilal."
Waah nggak tau bu.. mudah-mudahan sudah berteman lagi sekarang..
"Iya bu.. nggak apa-apa.. yang penting Bilal-nya nggak bikin gara-gara duluan"
Ooh, trus kira-kira ranking nya bagus nggak bu? (iseng-iseng nanya)
"Oooh nggak tau bu, saya nggak menghitung ranking... yang penting nilainya bagus. Mudah-mudahan nanti di kelas tiga lebih bagus lagi."
Jeeuh.. ni guru kok baeeek banget yak.., saking terenyuhnya, sampe-sampe ibu fotoin buat kenang-kenangan...


Trus sepanjang jalan ibu ngobrol sama kakak bilal, tuh kenapa gurunya gitu yak? Jawab kakak, emang gurunya yang satu ini baek banget. Trus ibu tanya, emang kamu suka bantuin apa?
Jawab kakak, bantuin macem-macem laah bu, kebanyakan bantuin anak-anak yang bermasalah itu laaah.
Misalnya?
Yaa misalnya si A, yang nggak ada di kelas, kadang-kadang Bilal disuruh nyariin.
Emang kemana tu anak?
Ada, keur ngalaweung di lantai atas..
Trus kamu apain?
Ya Bilal bujuk laaah supaya masuk kelas..
Hahaha.. geuning kamu merangkap biro konsultasi juga yaaak...?
Hehehe.. kakak bilal cuma cengar-cengir.
Trus apa lagi?
Ya kadang-kadang si ibu juga suka curhat soal masalah anak-anak itu. Misalnya waktu kasus si B itu yang hampir beberapa minggu nggak sekolah, si ibu nyuruh bilal menyelidiki ke rumahnya. Waktu bilal sampaikan laporan, kalo sebenernya si B itu berangkat dari rumah tapi nggak nyampe sekolah, akhirnya si Ibu mengunjungi ortunya si B. Gara-gara itu makanya kita nggak jadi foto kelas beberapa kali.
Maksudnya?
Ya kan harusnya kita foto kelas, tapi ibu nya bilang kalo ibu mau ke rumah si B ke Bilal. Pulangnya Ibu guru cerita, kenapa si B bolos terus-terusan. Ternyata si B itu sibuk dagang, padahal ortunya lumayan mampu bu. Cuma si B ini maennya sama yang doyan dagang gitu laah, dagang supenir suporter Persib bu..
Ooh, pantesan si ibu meni belaan ke kamu ya? Segitu dia guru matematika, itu nilai matematika kamu jeblog dia nggak marah...
Aaah itu sih karena dia baek aja bu.. kayaknya kalo aselinya nilai Bilal malah lebih jeblog lagi. Mungkin sekian persen nilai bilal itu akibat kebaikan guru-guru itu aja ke Bilal.
Yaa makanya, kamu kelas tiga nanti kudu belajar bener-bener ya ..!!
Kakak Bilal cuma manggut-manggut. Dalam hati ibu siih bersyukur, syukur kalo kakak bilal menyadari kekurangannya. Syukur kalo dia tau bahwa nilai "bagus" tersebut sekian persen akibat kebaikan hati guru-gurunya. 
Tapi, lagi-lagi ibu nggak "kuasa" memberi target.
Sebulan di kelas tiga, ibu basa-basi tanya... 
Bagemana nak? pelajarannya lumayan heboooh?
Yaa..lumayan, tapi so far masih bisa berjuang laaah..
Ooo, pokoknya kalo udah gawat darurat, kamu harus minta bantuan ibu ya...?
Iya bu.. pasti laaah
Tapi kamu belajar juga dooong.. jangan terlalu nyantai gitu..
Iya bu... ini juga disempet-sempetin belajar
Bo'ong laaah.. itu kebanyakan BBM-an melulu..malah pacaran lagi sama cewek-cewek nggak jelas..
Hahaha... kata siapa bu..?
Tau laaah ibu juga... jangan terlalu serius tau.. urusan kayak begitu maah
Iya.. tau lah Bilal juga...
Niih, pokoknya ibu sih nggak nuntut macem-macem. Ibu cuma pengen kamu jaga akhlak kamu, jaga sikap, perkataan, perbuatan. Sempatkan waktu buat belajar.. misalnya setengah jam aja sehari.
Yaa bu...!!!
Yang bener.. jangan cuma ngasal ya bu...ya ..bu... aja..!!
Iya. tau.. bilal juga ngerti kok bu.. Bilal ini sebenernya termasuk anak yang beruntung bu..
Lho kenapa?
Ya ibu nggak nuntut macem-macem, nggak ngancem macem-macem...
Emang yang laen gimana?
Yaa ada temen bilal yang belom apa-apa udah diancem.. kalo nggak lulus ke SMA anu, mau dimasukin ke sekolah tentara laaah, dimasukin ke pesantren yang di abra-kadabra laaah.. padahal anaknya nggak pengen dan nggak suka..
Ya kalo ibu sih, terserah ke kamu aja.. kalo kamu bisa masuk SMA anu ya masuk, kalo nggak bisa, masuk SMA mana aja nggak masalah. Yang jelas ibu nggak mau pake jalur-jalur ajaib gitu..
Hahaha.. "jalur gaza" maksud ibu..
Ya tau laah..
Iya ternyata "jalur gaza" itu mahal ya bu., kesian tuh kalo Bilal pikir-pikir. Temen-temen Bilal yang taun kemaren aja, mereka udah ngabisin duit juta-juta buat Bimbel, udah gitu, pas Nem-nya jelek, ngabisin lagi juta-juta buat 'jalur gaza'.
Ya.. makanya.. ibu mah nggak ada anggaran buat jalur seperti itu. Buat bimbel aja ibu masih mikir, perlu nggak siiih... perasaan ibu blum liat kamu usaha maksimal..
Iya laah, lagian mana sempet bimbel-bimbel segala..
Naah, makanya, pokoknya kaka inget aja. Harapan ibu tuh ke kakak nggak macem-macem. Ibu nggak berharap kakak ranking sekian laah.. ibu cuma pengen kakak tuuuh..apa yaa... belajar menghadapi masalah, belajar dewasa, belajar bertanggungjawab terutama ke diri sendiri...., kenali diri kamu sendiri nak, kendalikan juga diri kamu sendiri..!!(kakak cuma manggut..manggut...manggut...)
Biasanya obrolan berlanjut ngalor ngidul, diteruskan ke film, lagu, acara TV dlsb. Ndak terasa anak ibu sudah menuju remaja. Tugas ibu, ya semaksimal mungkin mendampingi kakak menghadapi masalahnya, berdialog dan menjadikan diri sebage orang kepercayaannya. Tapi tugas itu nggak mudah.. sungguh... Semoga aja Allah SWT tetap mendekatkan hati kakak Bilal ke ibu dan tetap menjaga keselamatan kakak Bilal, lahir dan bathin...Amiin....Amiiin....Amiiin...!!

Menjaga Hati

Dek, ada temen ibu yang nulis buku, judul dan isinya bagus dek.."Menggenggam Jiwa Anak". Konon buku itu ditulis berdasarkan pengalaman pribadi temen ibu mengasuh anak-anaknya. Bukunya konon laris dek. Cuma ibu belum sempet beli en baca. Pastilah isinya tentang perihal pengasuhan anak yang bahasa keren masa kini berjudul "smart parenting".
Ibu siii orang kuno dek, nggak ngerti istilah yang keren-keren masa kini soal ngurus anak. Ibu cuma ngikutin insting dan pengalaman ibu sendiri aja dalam ngurus anak. Cuma, dari dulu ibu punya prinsip, mungkin nggak persis seperti "menggenggam jiwa", tapi lebih cenderung kepada "menjaga hati". Duluuu banget, ibu suka berprinsip, hati anak itu ibarat porselen cina, nggak boleh retak, jatuh atau terluka. Sekalinya terluka, nggak bakalan bisa disambung lagi, pastilah ada bekasnya. Dari dulu, ibu percaya kalo adek dan kakak, meskipun masih belia banget umurnya, udah ngerti banget membaca situasi hati ayah dan ibu. Mosok ibu dan ayah ndak bisa mbaca situasi hati adek dan kakak?


Naah, malem ini kejadian deeh.. adek tersinggung. Gara-gara ibu capek buanget deek, jadi rada-rada nggak sabaran ngurusin adek.
Alkisah, hari ini ibu ngajar dari pagi sampe malem, mulai kelas biasa sampe kelas karyawan, ditambahan tadi bertapa kira-kira 4 jam ngebut nulis paper, jadi kayaknya sampe rumah ibu cuapeee banget dek, lahir dan bathin. Sampe rumah udah jam 20.30, ditambah lagi ayah nitip tolong beliin makanan kucing. Hadoooh, makin berat aja bawaan ibu. Pokoke nyampe rumah kepala ibu sudah senat-senut nggak karuan, punggung juga udah terasa retak di berbagai penjuru, pengennya segera mendaratkan diri di kasur. Ibu juga udah ngomong ke adek:
"Dek, ibu kayaknya udah cuapek banget, nggak kuat ngapa-ngapain niih, pengen cepet bobo".
"Ibu kuat bacain cerita nggak?"
"nggak dek, boro-boro bacain cerita, udah sini mending tiduran sama ibu, ibu peluk aja deeh, mau nggak? Kalo mau ibu ceritain tapi nggak usah pake buku"
(ibu suka ngeles, males bacain cerita dari buku, soalnya kudu sambil pegang buku segala).

Adek udah siap mau tiduran di pelukan ibu.. sambil cerita-cerita dikit kejadian di sekolah. Tiba-tiba adek inget..
"Bu, ayu pengen minum susu cair"
"Haduuh nak, susu cairnya di kulkas, kudu diangetin dulu, ibu udah nggak kuat ke dapur dan ngangetin susunya.. cape banget. Minta tolong ke ayah mau nggak?"
"Tapi ayah kan nggak ngerti cara ngagetin susu"
"Ngerti dek, gampang kok, tinggal tuangin di panci kecil itu, trus diangetin di atas kompor gas bentaran"
Tapi ibu juga tau, kayaknya ayah juga lagi nggak mood diganggu, makelum lagi nonton siaran langsung sepakbola Timnas sama kakak.
"Dek, minta tolong ke ayah, tolong bilangin, ibu udah nggak kuat lagi, kepala ibu pusing".

Nggak lama kemudian, kedengeran sama ibu, adek ngomong ke ayah :
"Ayah, Ayu pengen minum susu, tolong angetin yah.. ibunya pusing katanya"
Kedengeran jawaban ayah ..
"Ooh, iya bentar..."
Adek terus merengek, minta susu cair. Akhirnya kedengeran sama ibu, ayah bangkit dari depan TV.
"Ooh iya, ayah baru inget, ada susu cair yang di luar tuh, nggak usah diangetin, tinggal glek, niih susunya"
Rupanya ayah inget masih ada persediaan susu ultra yang suka dipake bekel ke sekolah. Dalam hati ibu udah mikir, ati-ati ngasiin susu ultra kemasan kecil gitu, suka tumpah kalo kepencet kotaknya.
Eeeh, blum selesai ibu mikir tiba-tiba terdengar ucapan ayah bernada tinggi :
"Duuuh adeek..!! jangan dipencet, kan ayah udah bilang, tunggu ayah, nanti ayah pegangin.. tuh kan jadi aja tumpah kemana-mana.. mana kena baju lagi.."
Nggak kedengeran suara adek.. ayah ngomong lagi..
"Hayo sini ganti bajunya, jadi aja.. kerjaan.. kudu ganti baju, kudu di lap lagi tumpahannya, sini ayah pegangin supaya nggak tumpah-tumpahan"
"Ayo kak, ambilin lap sana.. ini adeknya minum susu tumpah kemana-mana".
Nggak kedengeran suara adek.. kedengeran suara kakak menimpali
"Riweuh laaah bayi mah, minum susu aja tumpah-tumpahan..!!"
Kedengeran suara ayah..
"Nah udah selesai minum susu, ayo sekalian ganti baju, ayo ke kamar mandi, pipis dulu, trus tidur sana sama ibu..!!"
Kedengeran ayah membuka lemari baju, kedengeran lagi lemari baju dikunci. Tiba-tiba adek ngomong..
"Tapi ayu belum sikat gigi yaaah...?"
"Aduuuh.. nggak usah laah, besok pagi aja"
"Tapi kata ibu, ayu harus sikat gigi kalo mau tidur, apalagi kalo abis minum susu"
"Kumur-kumur aja laah.."
"Tapi ayu pengen sikat gigi..."
Kedengeran ayah sibuk nyiapin baskom dan cangkir plastik buat sikat gigi. 
Ibu  dah nggak kuat ngantuk, ketiduran  deeh..
Tiba-tiba ibu kebangun karena adek loncat naek kasur...
"Ibu.. aku siap tidur sama ibu..!!"
"Sini nak, ibu peluk.. tapi...eh.. kok bajunya basah dek?"
Kerasa sama ibu, kaos yang adek pake basah di bagian depannya. Ibu tebak, mestilah ketumpahan aer pas kumur-kumur abis gosok gigi..
"Ganti dek.. jangan tidur pake kaos basah, nanti masuk angin..!"
"Tapi bu, aku baruuu aja ganti baju.."
"Iya tapi ini harus diganti"
"Ini teeh baruuuu aja bu..." Adek keliatan cemas banget waktu ibu suruh ganti baju. Ibu ngerti, kayaknya adek "nggak enak" kalo ngerepotin ayah lagi, minta ganti baju.
"Gini deh, adek kan udah bisa ngambil baju sendiri, sekarang adek diem-diem ke lemari baju, pilih bajunya, trus bawa ke kamar, gantinya sini deket ibu, nggak usah bilang ke ayah.."
Adek nurut, diem-diem ke lemari, ngambil satu set piyama, dan cepet-cepet lari ke kamar, pintu kamar ditutup rapat sama adek.
"Tapi bu.. aku nggak mau ganti baju lagi..!!"
Ibu ngerti, kayaknya adek nggak mau keliatan ayah ngeganti baju lagi. Jadi, meskipun ibu nguantukkk buangettt dan kepala ibu pusiing banget.. ibu paksain bangun... ibu bilang ke adek..
"Ya udah, ibu yang ambilin, bajunya jangan yang itu dek, kan yang perlu diganti cuma kaosnya aja, adek tunggu di kamar, jangan ribut, ayah nggak bakalan tau adek ganti baju lagi. okey...!!"
"Tapi ini bajunya baruuu banget bu..!!"
"nggak apa-apa, baju ini kita gantung aja di lemari adek, kan ada gantungannya tuh... ini kan cuma ketumpahan aer minum, bisa kita pake lagi besok pulang sekolah.. gimana?"

Akhirnya adek mau..Ibu bangun, ambil baju dan masuk lagi ke kamar. Ayah dan kakak kembali asyik di depan TV. Baju adek ibu ganti, baju yang basah bagian depannya ibu gantungin di lemari adek. Beres ganti baju, ibu peluk adek..
"Naah, sekarang kita siap tidur....."

Kerasaa banget bahwa adek merasa "nggak enak hati" udah ngerepotin dan mengganggu keasyikan ayah nonton bola, plus juga ngeganggu ibu  yang lagi pusing. Jadi, untuk "menjaga hati" nya, ibu peluk adek erat-erat, sambil ibu cerita..

"Nggak apa-apa dek, namanya adek masih kecil, kadang-kadang emang cuma minum susu aja bisa jadi riweuh gitu.. ibu memang lagi pusing, tapi kalo ngurus adek, ya harus ibu lakukan dek..., kan adek itu bayi ibu yang paling ibu sayangin.."
"Kalo kakak?"
"Samaa.. itu juga yang paling ibu sayangin..!"
"Tapi kakak kan udah gede bu?"
"Tapi dulunya kan bayi juga.. sini ibu ceritain.. waktu kakak bayi juga sama riweuh nya kayak adek.."
"Suka tumpah-tumpahan juga kalo minum susu?"
"Iya.. minum aer aja suka tumpah..namanya juga bayi... sini ibu ceritain yaaa..."

Trus ibu cerita...

"Dulu juga waktu kakak segede adek, sama laaah kayak gitu... kadang-kadang ibu lagi capek..eeh. kakak bikin urusan macem-macem. Pernah sekali waktu, ibu lagi banyak banget kerjaan, cucian numpuk, setrikaan juga segudang. Ibu nyuci sendiri, nggak pake mesin dek, mesinnya lagi rusak. Nah setelah kering, satu-satu ibu setrika sendiri"
"Ibu nggak ngajar  waktu itu?"
"Ngajar, justru itu ibu jadi capek banget, karena semuanya ibu kerjain setelah pulang ngajar, tapi waktu itu kita nggak ada yang mbantuin dek"
"Nggak ada nenek yang bantuin?"
"Nggak ada, yang ada, ayah sama ibu, kadang-kadang ada bude yang bantuin ngasuh kakak waktu kakak masih kecil"
"Naah sekali waktu, sore-sore, kakak baruuuu aja abis ibu  mandiin. Ibu masih sibuk nyetrika, tau-tau kakak bilang.. mau minum... ibu bilang, tunggu bentar, nanti ibu ambilin.. eeeh belum sempet ibu ambilin, kakak udah sibuk ambil gelas plastik dan mencet dispenser. Ibu udah bilang.. awas nanti tumpah.. nanti bajunya basaah.. eeeh. blum beres ibu ngomong, beneran deeh.. minumnya tumpah dan baju kakak, yang baruuu aja diganti.. basah..!! Haduuh, ibu keseel banget, dek.. Capek kan, masak dicuci lagi, itu kan baru aja diganti. Lagian kalo dicuci susah keringnya. Jadi ibu bilang, sini bajunya ibu setrika aja deeh biar kering, biar nanti dipake lagi. Eeh.. kata ayah, biar diganti aja sama baju yang laen. Tapi ibu kan males, nanti makin banyak cucian ibu. Jadi aja ibu sama ayah pabanyak-banyak omong. Eeeh.. kakaknya malah nangis.. Naah ibu jadi kasian liat kakak nangis.. kakak kan masih kecil dek, jelas bukan salah kakak kalo nggak bisa megang gelas plastik trus tumpah. Naah, jadi ibu berenti ribut sama ayah. Jadi ibu ngalah, ibu ambilin kaos yang baru, kaos yang basah ibu setrika sampe kering dan ibu gantung terpisah, buat cadangan aja, ngkali aja kaos kakak tiba-tiba basah lagi."
"Jadi nggak apa-apa dek, kalo bayi itu memang suka riweuh.. maapin ibu yaaa.. mudah-mudahan besok ibu udah nggak capek lagi, nanti ibu deh yang nyikatin gigi adek. Kan ayah nggak biasa nyikatin gigi adek.. ya kan dek..??"
Adek diam mendengarkan cerita ibu, kepalanya disusupkan dalam-dalam, ibu elus rambutnya, ibu peluk adek, sampe terdengar nafas adek yang teratur, adek sudah tertidur....
Maafin ibu ya dek, memang ibu capek, tapi itu nggak jadi alesan ibu mengabaikan adek.

Rabu, 12 Juni 2013

Outing ke Cantigi Camp

Dek, ibu pernah janji mau posting cerita adek waktu jalan-jalan ke Cantigi Camp kan? Tapi nggak sempet terus.., nah sekarang disempet-sempetin deeh.
Dimanakah Cantigi Camp itu? Simak aja penampakannya di situs Cantigi Camp. Memang situsnya nggak uptodate ya dek, udah lama banget ga ada postingan baru. Truus.. dimanakah tepatnya letak si Cantigi Camp ini? Niih nemu koordinatnya di WikiMapia.   Kira-kira kalo dari Bandung tuh, kita lewat tol, keluar di Tol Cileunyi, trus ngarah ke Cibiru, naah, kira-kira nggak jauh dari jalan Cileunyi-Cibiru yang terbelah dua itulah ada jalan masuk ke Cantigi Camp. Masuknya lumayan juaauuh dek, kayaknya 2 km mah ada.. jalannya juga dari mulai yang mulus sampe ujung-ujungnya rada-rada asoy geboy gitu lah, berkelok-kelok, bergelombang, dan nanjak. So, sebenernya Cantigi Camp ini nampaknya deket-deket kaki gunung Manglayang (soteu yak..).


Oh ya, kita ke sana barengan temen-temen adek, dalam rangka "outing" dan "family gathering" ceritanya. Entah inisiatif siapa, pokoke ibu mah ikutan aja laah, ogah ribet-ribet. Sebage biaya ini itu, panitia (terdiri dari para ibu-ibu juga) meminta bayaran 150 rb per orang tua yang ikut. Anak-anak sih ga usah bayar lagi (kayaknya ada anggaran dari dana KBM gitu ngkali yak). Karena bayarannya lumayan kenceng, jadi ibu cuma ndaftarin diri sendiri aja. Kalo sama ayah, hadoooh bisa2 jebol deh koceknya.  Kita berangkat pagi-pagi dek, tapi nggak pagi-pagi amat, sekitar jam 8-an lah. Ibu nggak bawa bekel makanan apa-apa, sebab konon disediakan. Tapi, buat jaga-jaga ibu bawa jugalah snack ala kadarnya. Yang penting tuuh bawa baju ganti, soale kita nanti mau basah-basahan. Ibu juga bawa baju ganti, pengalaman dulu waktu nganter adek ke taman safari, eeeh pas perginya adek mabok sampe muntse-muntse kena baju ibu. Untung ibu bisa minjem baju mbak Utri. Naah, sekarang? mbak Utri kan dah nggak jadi guru TK lagi.  Buat adek ibu bawain 2 setel baju, plus anduk en sisir (jiaaah, tapi lupa bawa sabun mandi..!!). Oh ya. beberapa hari sebelumnya adek dan temen-temen dibagiin jaket. Ada namanya di dada, bahan kayak kulit sintetis, model dan warnanya kayak jaket the-police gitu laah. Jangan-jangan sisa orderan the-police niih.. ha..ha..

Persiapan sebelum berangkat
Kita naek beberapa mobil, umumnya mobil ortu-ortu yang laen. Ibu siih, ya biasaa laah nebeng doang...! Ibu lupa, kayaknya ada mungkin 10 mobil. termasuk 2 mobil yang isinya adek dan temen-temennya.
Setelah perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kita nyampe di lokasi. Begitu buka pintu, woow.. udaranya suegerr dek...!! Rupanya Cantigi Camp ini udah masuk-masuk udara kaki gunung gitu, dan berhubung juaaauuuh dari jalan raya, pastilah udaranya seger bener. Lahannya luas juga ternyata, kayaknya ada beberapa wahana. Yang jelas keliatan si wahana flying fox yang lumayan (ibu ga punya fotonya, tapi bisa diliat nooh di situsnya), trus kayaknya ada lapangan dan beberapa jenis kolam. Ya sud, sebelum berkotor ria, marilah kita berfoto bersama, he..he..

Foto bareng sebelum berbasah-basahan
Kemudian adek dan temen-temen berbaris rapi, datenglah beberapa kakak pendamping alias "fasilitator". Sang kakak akan membimbing adek-adek melewati beberapa permainan hari itu. Yaa, seharian kita bakal bermain ria dek.. berkotor-kotor ria.. berbecek-becek ria sampe cuapek..!!
Game pertama.. adek-adek diajak membentuk lingkaran, ditemenin sama ortunya m asing-masing (kesian juga ya yang ortunya nggak ikutan, kepaksa ditemenin barengan sama bu guru). Trus kita maen semacam pemanasan dan nyanyi-nyanyi gitu. Setelah itu, adek-adek dibagikan segumpal tanah liat. Adek boleh bikin apa aja dari tanah liat tersebut. Seperti biasaaaa, adek selalu bikin "wajah kodok".  Setelah selesai, semua hasil karya tanah liat dijejerkan di pinggir lapangan rumput, ceritanya dijemur sampe kering.

Ayo adek-adek, kita membentuk lingkaran...

Nah mari kita uwel-uwel tanah liat ini..
Ini beberapa hasil karya uwel-uwelan tanah liat. yang adek yang mana yak?
Permainan kedua, adek dan temen-temen serta para ortu dibagi menjadi beberapa grup.  Setiap grup diminta nyari nama sama yel-yel buat grupnya. Adek ikutan grup ibu-ibu yang milih nama "Chibi-chibi", plus yel-yelnya bergaya chibi-chibi juga.  Trus setiap grup diminta melakukan tugas, mindahin bola pingpong melalui pipa paralon yang disambung-sambung. Intinya sih kerjasama. Ternyata ribet juga ya, karena kalo bola pingpongnya jatuh kudu diulang lagi.

Chibi...chibi.....!!
Ayo pindahin bola pingpong-nya..!!
Beres maen bola pingpong, adek dan temen-temen diajak mengawut-awut kebon singkong. Mereka sudah menyiapkan singkong (yang kayaknya si ditanam mendadak..ha..ha...), pertama pelajaran menanam singkong. Setelah beres akting menanam singkong, ceritanya singkongnya udah jadi (jiaah, cepet banget tumbuhnya yak!), so adek-adek memanen singkong, dengan cara mencabut batang singkong tersebut. Meskipun pura-pura, tapi rame juga ya dek, soale banyak wajah sumringah, campuran heran dan girang, ternyata asyik juga nyabutin singkong. Kakak-kakak fasilitator juga sibuk menerangkan persingkongan, termasuk gimana menanamnya, berapa lama bisa dipanen, apa aja manfaatnya, de-el-es-be...

Pura-pura menanam singkong..



Dicontoin sama bunda ya dek..

Naah.. setelah beberapa bulan, singkongnya kita panen deeh..

Tuuh.. dapet kan singkongnya...?

Agak ke bawah dari lahan singkong, ada wahana bermacam-macam halang rintang. Misalnya, halang rintang bambu, halang rintang tali-tali, jembatan gantung, batu yang kudu diloncat-loncatin, dsb. Bergiliran adek dan temen-temennya maen di halang rintang tersebut. Ooh ya.. ternyata cuaca yang sudah mendung dari tadi berubah jadi hujan. Yaah, ga usah pake payung, kagok, marilah kita berhujan-hujan ria...!! Wahana halang rintang diakhiri dengan wahana labirin kecil berupa semak belukar dan ada labirin bentuk tali-temali.

Ayo adek-adek, loncatin bambunya..!

Naah sekarang merangkak ngelewatin ban.
Aduuh, harus pelan-pelan nih, talinya ribet banget..
Awass.....! Dikejar harimau tuh di dalam "hutan" labirin mini.

Ini jebakan terakhir, labirin kayak sarang laba-laba..

Hadoooh, siap-siap tempur maen aer lagi nii..
Setelah melewati labirin mini tadi, adek-adek masuk ke lapangan yang agak ke bawah dikit, kayaknya berikutnya sesi maen aer, soale di lapangan ini banyak banget tempat penampungan aer.
Seperti dugaan ibu, acara pertama ya sejenis lomba berbasah-basah ria. Adek dan temen-temennya yang sudah dibagi jadi beberapa kelompok tadi, berlomba-lomba berusaha mengeluarkan bola pingpong dari pipa paralon yang dipasang tegak, dengan cara mengisikan aer di pipa tersebut, sampe si bola naek ke bagian atas, tapi pipanya banyak bolongnya.. hahaha... Basah total deeh...! Ujung-ujungnya malah yang nggak basah juga disiram sama si mas-mas dan mbak-mbak fasilitator. Niatnya udah jelas, membuat kita semua basah..!

Ayoo...ayoo.. bantuin ngisi aernya dong..!!
Duuuh.. ujung-ujungnya basah semua deeh... diguyur sama si kakak-kakak..

Berbasah-basah ria berlanjut di kolam-kolam laennya. Pertama, kolam yang berisi jembatan apung. Kolamnya nggak dalem siih, trus adek dan temen-temen diminta melewati jembatan apung tersebut, berdua-berdua, tapi dari arah yang berlawanan. Seru-seruannya kalo papasan di tengah-tengah, naah mereka sibuk berusaha supaya nggak jatuh. Tapi ada juga yang sengaja njebur-njeburan.

Diih gimana niih? jembatannya goyang-goyang melulu..
Jongkok aja deh, supaya nggak ngejebur.

eeeh.. ngejebur juga deeeh...
Kolam berikutnya adek  dan temen-temen naik semacam rakit tambang. Kolamnya nggak panjang-panjang amat, kira-kira 10 meter laah.  Adek dan temen-temen harus berusaha nyebrang dengan cara menarik tambang pada sisi rakit. Hiiy, banyak juga yang nangis karena taaatutt.. lagi-lagi intinya ngajarin kerjasama.


Ayo barengan kita tarik rakitnya..!!

Kolam ketiga, ternyata kolam lumpur. Adek dan temen-temen diminta nyari belut di kolam tersebut. Halaah, kolamnya pekat banget dengan lumpur, sampe warna baju dan celana adek coklat semua.  Makanya, beres nangkepin belut, adek dan temen-temen pindah ke kolam terakhir, yang berjudul nangkep ikan. Kolam ini sebenernya tempat "nyuci lumpur" abis berlumpur ria, tapi sambil nangkepin ikan. Sudaah deeeh.. tamat acara berbasah-basah ria. Nggak kerasa udah melewati jam makan siang. Tapi cuaca masih terus hujan.
Sebelum makan siang, adek dan temen-temen bergiliran mandi. Ya, kudu mandi laah, wong baju, clana, sampe kerudung kotor semua. Di sono disediakan tempat mandi, tapi sederhana gitu laaah, berupa pancuran dalam kubikal kayu/semen, nggak tertutup.  Rada-rada licin lantainya, karena pastilah banyak lumpur. Baru kerasa kalo ibu lupa nggak bawa sabun en sampo, jadi mandinya cuma digosok-gosok ajaaa deeh.. itu juga nggak terlalu jelas apa yang digosok, wong kamar mandinya rada-rada remang gitu.


Ayo diobok-obok lumpurnya.. cari belut..!!

Belut nggak dapet, baju penuh lumpur deeh..!! Tapi asyik loo..

Setelah mandi, bergantian juga adek dan temen-temen shalat. Tempatnya disediakan di gerbang masuk, ada mushola di Lantai 2, lumayan gede. Tapi berhubung hujan nggak berhenti-henti, jadi urusan sholat ini rada ribet, karena adek dan temen-temen yang masih pada imut-imut itu kudu bolak balik, dari tempat wudhu, ke saung tempat berteduh, ke tempat shalat, ke saung lagi, de-el-es-be. Banyak banget yang kepeleset (karena jalan menuju saung becek dan tergenang air). Kayak percuma aja deeh tadi mandi en ganti baju...  Oh ya.. ada sekitar 4 saung yang tersedia. Dua saung berdekatan dengan kamar mandi dan mushola, yang dua lagi agak jauh. Sambil menunggu hujan, adek dan temen-temen makan siang di beberapa saung tersebut. Kesiaan, dingiiin, laper, ujan..lengkap deeh..!! Untunglah nggak beberapa lama kemudian hujan mulai reda. Adek dan temen-temen bersiap-siap untuk acara pamungkas, maen flying fox. Menurut ibu-ibu panitia, mereka sudah membeli tiket flying fox, sekitar 2x setiap anak. Satu kali terbangnya sekitar 10 rebu. Tuuh jarak tempuh flying fox nya juaauuh juga lho dek.  Adek harus jalan menanjak sekitar 50 meter, trus naek menara yang tingginya sekitar 10 meter lebih, nah di atas sono ada kakak-kakak yang memasangkan sabuk pengaman, kalo dah siap.. meluncuurrr deh ...!! Ibu yang nggak pernah maen flying fox, ngeliatnya ngerriii, tapi adek dan temen-temen malah ketagihan, 2x nggak cukup. Hampir semua langsung "mendaftar" lagi begitu mendarat di ujung flying fox. "Lagi..lagi..!!" Begitu sabuk pengaman dibuka, adek-adek langsung rebutan berlari kembali ke menara, sampe-sampe ibu-ibu kewalahan. Untungnya hujan turun lagi sehingga permainan flying fox terpaksa dihentikan. Nggak kerasa udah menjelang ashar. Rombongan siap-siap pulang, cuapeek buanget ya dek.. baju abis mandi udah kotor lagi, tapi rasa suenengnya luar biasa yaa. Oh ya.. pulangnya ternyata ada juga tukang foto amatiran, nawarin foto adek dan temen-temen. Satu fotonya 5rebuan. Ya dibeli aja laah.. kesian kan mereka udah cape-cape motoin adek-adek. Jadi 150rebu mahal nggak? Relatif siih, soale udah include transport, tiket masuk, tiket flying fox, jaket, makan siang, snack, buah-buahan, minuman, supenir (adek dan temen-temen dapet 2 supenir, pura-puranya hadiah permainan, isi tempat pensil  plus buku gambar, yang satu lagi isi beraneka snack).  Kalo menurut ibu, mungkin nggak "mahal" juga. Cuma kalo keseringan, waah, bangkrut deeeh.