Senin, 23 Juni 2008

Pindah Sekolah

Hari ini Bilal bagi raport. Aku yang bertugas ambil raport sekalian ngurusin pindahan sekolah Bilal. Rencananya nanti kelas 4 Bilal mau pindah ke sekolah alam bandung,(http://sekolahalambandung.com). Sebenernya dari waktu masuk kelas 1 juga Bilal udah pengen ke sekolah alam, tapi mungkin baru sekarang rejekinya ada.
Sedih juga sih rasanya.. apalagi Bilal sudah cukup lama bersekolah disini. Beberapa orang tua teman bilal, terutama teman yang cukup dekat, agak menyesalkan, kenapa Bilal harus pindah. Sebetulnya Bilal juga agak sedih, terutama karena harus berpisah dengan temen-temennya satu gank, misalnya Rizki dan Ival.
Tapi situasi dan kondisinya sepertinya harus begitu. Alasannya bisa dibagi menjadi beberapa item :
  1. Lokasi, ini alasan yang paling utama. Dari sekolah alam ke rumah, hanya perlu waktu 15 menit berjalan kaki, tanpa harus melewati jalan raya utama.
  2. Karakter, ini alasan kedua. Diharapkan dengan pindah ke sekolah alam ini Bilal memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengembangkan karakternya.
  3. Muatan agamis, ini alasan ketiga. Mudah-mudahan di sekolah yang baru ini Bilal berkesempatan lebih banyak mengenal muatan agama dibandingkan sekolah sebelumnya yang memang hanya mengalokasikan waktu relatif sedikit untuk pembelajaran agama (dan juga etika :/).
Mudah-mudahan harapan tersebut dapat terpenuhi..Amin..!!
Bagi raport memang selalu lucu. Misalnya, baru sekarang aku baru denger wali kelasnya menyampaikan bahwa Bilal dianggap cukup potensial dan masih bisa dikembangkan. Tapi, kalo di'kembang'kannya dalam konteks di-push supaya angka raportnya lebih baik lagi, aku nggak setuju lah.. Jadi, seperti biasa, aku nggak banyak tanya-tanya, nggak banyak protes, cuma ngangguk-ngangguk. Aduh.. aku juga lupa, nggak nanya, Bilal ranking berapa ya? Soalnya di raport nggak ditulis jadi harus nanya ke gurunya. Kebetulan, aku agak males dan lupa.
Yang lucu lagi adalah kutipan dialog antar orang tua, baik yang terdengar di kelas, di halaman maupun di jalan pulang. Misalnya "kenapa ya anak saya nggak masuk 10 besar, padahal perasaan nilainya nggak jelek-jelek amat".
Atau, ini potongan dialog seorang ibu yang (mungkin) melaporkan hasil raport pada suaminya :
"Aduh.. nggak tau deh pa.. si xx (anaknya) koq nggak ranking ya? yang ranking pertama itu si yy, yang lain ibu nggak tau. Aneh ibu juga.. nggak ngerti tuh.. kenapa bisa ya.. Padahal nilai raport xx tuh bagus-bagus, emang sih yang agak kecil tuh nilai TIK, ngaku itu mah. .rada kurang. Trus yang sebel tuh nilai olahraga dan KTK, meni sebel ke si ZZ (mungkin gurunya ya..:( ). Meni tega ngasih nilai kecil ke xx....X@#$@%$#4..." (he..he..sensor neh)
Jadi ternyata, masih banyak (atau mungkin kebanyakan) orang tua menilai pencapaian anaknya dalam bentuk angka, ranking, juara, dlsb. Duh kasian amat mereka yang nggak masuk ranking, juara dlsb.. padahal mereka mungkin aja di masa mendatangnya dapat menjadi manusia-manusia yang lebih unggul, berpotensi, dlsb daripada yang rangking-ranking tsb..

Tidak ada komentar :