Minggu, 26 Februari 2017

DeJaVu

Maap yaaach.. ini posting lamaa banget, harusnya sejak tahun 2014, tapi baru sempet sekarang...
Ini tentang tempat kelahiranku...

P . L . A . J . U
Plaju, sebuah tempat kecil sekitar 7-8 kilometer dari pusat kota Palembang. tidak banyak catatan di jagat maya tentang Plaju, karena memang tidak ada hal istimewa yg dapat diceritakan. Tetapi, bagi segelintir orang yang pernah tinggal di sana, tempat ini tak terlupakan. Kecil tapi tertata manis. Aaah kata siapa kecil. Plaju sebagian besar ditempati oleh aset dan properti milik Pertamina. sebagian sudah ada sejak Pertamina blum ada, dan ketika itu masih dimiliki oleh Stanvac, BPM, kemudian oleh Shell.
Salah satu dari segelintir orang tersebut adalah aku, yang selalu mencantumkan tempat lahir...PLAJU... bukan Palembang, seperti halnya lagu.... disana aku dilahirkan...... dibuai dibesarkan bunda.... tapi sayangnya tempat itu tak selamanya dapat kami tinggali sehingga kami menghabiskan hari tua jauh dari tempat tersebut (yaiyaaalaaah.. rumah punya kantor jugaaa...)

Apa saja yang ada di Plaju?

Untuk jaman dahulu kala, Plaju adalah kompleks perumahan modern. Semua fasilitas tersedia. Di dalam kompleks sudah ada masjid, gereja, sekolah, sport center (kolam renang, lapangan tenis), rumah sakit yang meskipun sekelas poliklinik tetapi lengkap dgn ruang rawat inap, ruang operasi,  UGD, dan ambulans, makam dan lain-lain. Dibandingkan dengan kondisi di luar, tinggal di dalam kompleks sungguh nyaman. Deretan rumah-rumah karyawan tanpa pagar. Jalan akses yang lebar dan terawat, saluran air lancar bebas genangan. Setiap rumah dilengkapi dengan ventilasi yang nyaman, halaman rumah sangat luas untuk bermain, jarak teras rumah cukup jauh dari jalan raya, air mengalir deras di dapur dan kamar mandi, saluran telepon internal kompleks. dan berbagai kemudahan lainnya. Pohon rindang tumbuh dimana-mana. Taman-taman terawat baik. Sebagian penghuni mengandalkan becak dan sepeda untuk transportasi di dalam kompleks, karena tidak ada angkutan umum. Setiap rumah memiliki sepeda lebih dari satu, bahkan sering kali jumlah sepeda sama dengan jumlah anggota keluarga di rumah tersebut. Anak-anak balita dibonceng orang tua dengan sepeda onthel, disimpan di keranjang rotan atau pada boncengan dengan kaki diikat kain agar tidak tersangkut jari-jari roda sepeda. Siang sepulang sekolah atau sore hari anak-anak berkeliling dengan sepeda. Guru dan murid menggunakan sepeda ke sekolah. Di sekolah, tersedia deretan besi untuk parkir sepeda.

Kakak-kakak, di depan salah satu deretan rumah. rumah-rumah tanpa pagar dengan halaman luas. Ini sekitar tahun 1971-1972
Masa Lalu

Naah... di tempat inilah aku dilahirkan. tempat pertama yang aku ingat adalah rumah jl.Bakung. Nomornya aku lupa. yang jelas rumahnya terletak satu rumah setelah perempatan. Rumah jl.Bakung ini berkamar 3. Ada halaman samping yang luas ditumbuhi pohon mangga, jambu batu, mengkudu dan sirsak. Di pojok belakang halaman ibu memelihara ayam dan di belakang kandang ayam ada segerombol pohon pisang. Tetangga sebelah kanan memiliki usaha rumah makan padang. Dari halaman rumah, aku sering mengintip dapurnya lewat jendela. Ada banyak panci dan kuali besar. Bau harum masakan padang kerap tercium ketika kami bermain.

Ibu dan bapak, ketika masih berputra 2 orang sajah, di depan rumah yang mereka tempati saat itu (bukan rumah jl. Bakung)

Di depan rumah yang sama, tapi putranya sekarang sudah 4 orang.

Bapak, berfoto di halaman masjid, dengan sepeda kebanggaanya. Sepeda ini masih sempat aku naiki tahun 1978
Bapak, ketika menjadi guru, bersama murid-muridnya, sepertinya yang ditandai spidol di sebelah kiri salah satu kakakku (kak Udin). Foto ini diambil tahun 1962 an sepertinya.

Bapak, masih dengan profesi yang sama, guru kelas 1. Foto ini diambil tahun 1976 an sepertinya.

Ada banyak cerita yang aku ingat di rumah pertama ini.
Pertama... musim anjing gila. Di rumah ini dapur terpisah dari rumah utama, untuk menuju dapur dan kamar mandi kita harus keluar dari pintu utama rumah. Saat itu agak banyak anjing berkeliaran. Konon ini anjing liar karena tidak menggunakan peneng, sejenis identitas kepemilikan hewan berupa kalung. Kakakku bilang anjing-anjing itu gila sehingga adik-adik yang masih kecil lari ketakutan kalo anjing itu datang. Ruang makan memiliki pintu dengan 2 daun pintu terbuka, menghadap halaman belakang. Sekali waktu saat sedang makan malam dan kami hilir mudik dari dapur menuju ruang makan, tiba-tiba datang segerombolan anjing ke halaman belakang. Keruan kakak-kakakku berlarian menutup pintu takut dengan anjing tersebut. Aku dan kakakku menutup pintu ruang makan, sementara kakak yang lain-lain terkurung di dapur. Dengan deg-degan aku mengintip dari kaca pintu. Karena waktu itu aku masih kecil, kakak menaikkan aku ke kursi makan agar bisa mengintip leluasa. Kursi tersebut kami senderkan ke pintu ruang makan. Terlihat 3 ekor anjing sedang mengais-ngais tempat sampah. Entahlah anjing gila atau bukan, tapi keliatannya memang anjingnya galak, atau waktu itu kami memang takut dengan anjing. Sedang asyik-asyik mengintip, tiba-tiba....brak...!! kursi yang aku naiki jatuh dan menabrak pintu sehingga pintu langsung terbuka lebar. Aku terjatuh, anjing-anjing itu lari kocar-kacir kaget. Maka keluarlah kakak-kakakku yang bersembunyi di dapur dan semua mentertawakan aku yang kesakitan gara-gara jatuh. Sejak itu kami jarang melihat anjing-anjing itu lagi. Konon keamanan kompleks menerapkan aturan baru, anjing-anjing yang tidak berpeneng  akan di"musnah"kan jika tidak jelas siapa pemiliknya.
Kedua.... kakakku kepalanya bocor gara-gara berkelahi. Kakakku yang laki-laki, kak Udin memang agak bengal, senang berkelahi dengan teman-temannya. Ternyata kali ini penyebab berkelahinya bukan karena bengal, tetapi gara-gara membela kakak iparku. Konon ketika itu, kakak perempuanku yang terbesar baru saja menikah dan kebetulan kakak iparku ini kepalanya botak.  Rupanya, banyak teman-teman kak Udin mengolok-olok si kakak ipar, mereka mengejek kak Udin dengan teriakan botak...botak... padahal kak Udin sama sekali tidak botak. Mendengar kakak iparnya diejek, maka berkelahilah kak Udin. Aku juga tidak tau persis bagaimana perkelahiannya, yang aku ingat kak Udin pulang dengan baju bersimbah darah. Aku ikut menangis karena panik, sementara ibu membersihkan luka kak Udin.  Aku mendengar ibu menasihati kak Udin untuk mengalah dan membiarkan orang yang mengejek.

kakak iparku yang botaknya sering dijadikan bahan ejekan anak-anak

Ketiga.... kakak perempuanku di'vonis' cacat. Adalah kakak perempuanku, kak Fauziah, yang paling cantik dengan wajah ke-arab2an, tetapi badannya kecil. Suatu sore ibu kedatangan tamu, dan aku melihat kak Fauziah diperiksa oleh tamu tersebut. Nampak tamu menjelaskan sesuatu dan nampak wajah ibu dan kak Fauziah sedih sekali. Memang sebelumnya kak Fauziah ini sudah sering sakit, tapi rupanya sang tamu menjelaskan penyebab sakitnya kak Fauziah. Ketika tamu pulang, aku mendekati ibu dan bertanya, kenapa ibu kelihatan murung dan sedih. Ibu bercerita bahwa kak Fauziah, setelah diperiksa di rumah sakit, dan dicek juga oleh tukang urut langganan ibu, nampaknya mengalami kelainan tulang belakang. Tulang belakang Kak Fauziah menjadi bengkok sehingga mengganggu perkembangan paru-paru. Itulah sebabnya kak Fauziah sering sesak napas, sering sakit batuk pilek dan lain-lain. Menurut cerita ibu, ketika kak Fauziah kecil, kak Fauziah pernah jatuh dari pohon gara-gara ikut-ikutan anak laki-laki main tarzan-tarzanan. Karena takut dimarahi ibu, kak Fauziah tidak cerita kepada ibu ketika jatuh, setelah beberapa lama, setelah beberapa kali sakit dan diperiksa dokter, barulah ibu bertanya, apakah kak Fauziah pernah jatuh? Tentunya sudah terlambat, karena mungkin tulang kak Fauziah sudah terlanjur cedera. Ibu masih berusaha memanggil beberapa tukang urut, tetapi tidak ada hasilnya. Ibu juga memeriksakan ke dokter dan bertanya apakah ada peluang dioperasi? Tapi menurut dokter, sulit jika dioperasi, karena itu tulang belakang sehingga khawatir mengganggu susunan syarafnya. Maka sejak saat itu, kak Fauziah makin jelas bungkuk tulang belakangnya, hingga akhir hayatnya.
Keempat, aku kena air panas. Alkisah kami memiliki beberapa pohon mangga di halaman samping. Ibu berusaha mencangkok pohon itu untuk ditanam di rumah salah seorang kerabat. Setiap hari ibu menyiram cangkokannya dan aku bertanya, untuk apa? Ibu menjelaskan, agar cabang itu dapat menjadi pohon baru. Naah, suatu malam, ketika aku minta dibuatkan susu, ibu belum sempat karena sibuk mengerjakan hal lain. Aku, yang merasa sudah cukup besar, naik ke kursi makan dan berusaha membuat susu sendiri. Ketika itu, termos air panas ditutup dengan tutup gabus.  Aku meraih termos air panas dan membuka tutup gabus. Aku berusaha menuangkan isinya ke gelas susu. Tapi... rupanya termos itu terlalu berat ketika dipegang miring. Pegangan terlepas, dan airnya langsung menyiram bagian perutku, karena waktu itu, setelah naik ke atas kursi pun, meja makan masih setinggi perutku. Langsung aku berteriak kepanasan dan ibu serta kakak-kakak yang lain berlarian ke arahku. Ibu memeriksa perutku dan kelihatan ibu khawatir. Rasanya memang sakit sekali. Ibu menyuruh kakak menelpon rumah sakit. Tidak lama kemudian, datang mobil ambulan di halaman depan. Dipangku ibu dan ditemani kakak aku dibawa ambulans ke rumah sakit.  Pulang dari rumah sakit perutku ditutup perban. Kakakku malah sibuk menggangu, menyebut perutku sekarang mirip pohon mangga, diberi cangkokan. Mungkin dari perut ini akan tumbuh pohon baru. Aku menangis ketakutan dan minta perbannya dibuka. Akhirnya ibu memarahi kakakku yang jail tersebut dan menjelaskan bahwa perban itu untuk menutup luka bakar.
Kelima, aku sendiri yang mengalaminya, dan memang agak fenomenal... diculik jin!!! Alkisah, setiap magrib kakak-kakakku selalu pergi mengaji. Aku sendiri yang belum ikut mengaji karena masih kecil. Mereka pulang hingga selesai Isya. Suatu sore, aku ingin sekali ikut mengaji. Saat azan magrib berkumandang, kakak-kakakku sudah sibuk akan berangkat mengaji. Aku merengek ingin ikut. Salah satu kakakku menyarankan aku untuk berwudhu dulu. Segera aku lari ke kamar mandi yang terletak di halaman belakang, terpisah dari rumah utama. Hari sudah mulai agak gelap. Aku mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup. Rupanya bapak masih di dalam kamar mandi, mungkin sedang berwudhu. Mendengar ketukanku, bapak bilang aku agar menunggu sebentar. Sambil menunggu bapak, aku menoleh ke arah halaman belakang. Entah apa yang aku lihat, yang jelas aku melihat kakakku seolah-olah sudah berangkat meninggalkan aku. Aku berteriak memanggil kakak untuk menunggu... mereka hanya menoleh dan melambaikan tangan. Aku langsung menyusul kakakku. Seingatku, aku melewati sejenis lapangan rumput yang cukup luas, sementara kakak-kakakku tampak di kejauhan. Tapi anehnya tidak pernah tersusul. Seingatku akhirnya aku menemukan masjid, kakak-kakakku terlihat masuk ke masjid dan mereka duduk jauh di depan, sementara aku mengintip-intip di pintu masjid. Tiba-tiba ada bapak-bapak menawariku masuk. Aku agak takut, tapi si bapak meyakinkan untuk masuk. Bahkan bapak ini kemudian memangku aku untuk duduk di dalam masjid. Stop... sampai situ ingatanku. Ternyata apa yang terjadi sebenarnya?
Sebenarnya, ketika membuka pintu kamar mandi, bapak langsung kaget karena aku tidak ada di depan pintu kamar mandi. Bapak segera masuk ke rumah dan bertanya ke yang lain. Tapi semua kakak bilang, dari tadi aku belum masuk kembali. Mereka kira aku diajak bapakku masuk ke kamar mandi. Sadar aku sudah menghilang tidak ada jejaknya, bapak dan seisi rumah mulai mencari. Mereka mencari di semua tempat, di kamar mandi, dapur, gudang, kolong tempat tidur, halaman samping, belakang. Tapi hasilnya nihil. Bapak mulai cemas, ibu apalagi. Segera bapak menghubungi semua tetangga meminta bala bantuan. Semua tetangga ikut mencari. Mereka mencari di setiap jengkal tanah di halaman rumah kami, juga di halaman rumah tetangga. Hasilnya nihil. Ketika sudah hampir putus asa, tetangga belakang tiba-tiba mengusulkan untuk mencari ulang, menyisir ulang semua tempat. Kali ini dia membawa obor besar, dan mulai membaca surat Yasin dan surat apapun yang dia ingat. Tindakannya diikuti oleh yang lain, jadi semua mencari sambil membaca ayat-ayat Al Quran dengan keras. Tanpa diduga, usaha ini berhasil. Tetangga belakangku, yang aku panggil dengan sebutan "Bang Buyung", menemukan aku duduk di atas tumpukan sampah, di pojok belakang rumah, di belakang kandang ayam. Padahal tempat itu sudah berkali-kali diperiksa sebelumnya. Begitu bang Buyung menemukan aku dan berteriak, semua datang menghampiri. Aku digendong bang Buyung pulang. Sebetulnya, saat itu, ketika semua mencari, aku sempat melihat bang Buyung lewat dengan obornya. Aku panggil-panggil, tapi bang Buyung dan yang lain-lain seperti tidak mendengar dan melihatku. Aku tidak merasa duduk di atas tempat sampah, tapi duduk di pangkuan bapak-bapak tadi. Ketika bang Buyung lewat kedua kali, aku tiba-tiba melihat sorotan senter dan obor di depan mata. Aku kaget dan wajah bang Buyung terlihat jelas. Aku digendong dan dibawa pulang. Bapak menyambutku dari gendongan bang Buyung. Menurut Bapak, aku diam nyaris tidak bersuara selama hampir 30 menit. Bapak, ibu, dan yang lain bertanya, kemana saja aku. Tapi aku diam tidak menjawab apa-apa. Akhirnya bapak menggendong dan menenangkan aku, sambil melantunkan ayat-ayat Al Quran, menggendong aku cukup lama. Berangsur-angsur aku mulai bicara dan pelan-pelan aku menjelaskan, apa yang aku rasakan tadi. Bapak terus menggendongku sampai aku tertidur. Sejak saat itu, ibu menerapkan aturan ketat, aku tidak boleh berada di luar rumah menjelang magrib, dan harus selalu ditemani oleh salah satu kakakku selama magrib. Aku juga konon berkelakuan agak aneh jika telat masuk rumah menjelang magrib. Di depan rumah ada pohon besar. Konon jika aku telat masuk rumah menjelang magrib, pasti aku menangis tanpa sebab melihat pohon tersebut. 
Peristiwa ini kenangan aku terakhir di rumah itu. Setelah itu, ibu mengajakku ke Jakarta untuk beberapa saat. Pulang kembali ke Plaju, ternyata ibu dan Bapak sudah pindah ke rumah yang baru, yang berjarak kira-kira 5 menit dari rumah lama.

Foto di rumah Jl. Bakung, Kak Fauziah (paling kiri) sudah terlhat membungkuk akibat bengkokan tulang belakangnya.


Di tempat ini, anggota keluarga kami cukup lengkap, setiap lebaran kami berkumpul, berfoto-foto, misalnya, duduk santai di kursi dekat jendela depan rumah.

Atau, berkumpul di teras rumah sehabis sholat Ied, dengan tanaman "kebangsaan" ibu, bunga Suplir berbagai jenis, dari yang kecil sampai yang besar.

Sehabis Shalat Ied thn 1971, Teras rumah Jl. Bakung, Kak Fauziah bersender di tiang
Di rumah kedua, Jl.Rampai, sebenarnya ada beberapa hal yang sempat aku ingat. Antara lain, rumah ini dipenuhi pohon mangga di halaman samping. Seingatku ada 5 pohon mangga besar-besar. Setiap musim buah mangga, ibu selalu sibuk membuat manisan mangga, dari mangga muda yang rontok tertiup angin. Pagar halaman adalah tanaman beluntas. Ibu sering menjemur seprai di pagar tersebut. Seprai yang dicuci dengan teknik "bleaching" jaman dahulu, alias di-kelantang (dicuci dengan sabun, tanpa dibilas, kemudian dijemur sampai kering, setelah kering, dicuci ulang baru dibilas hingga bersih, konon efektif memutihkan seprai). Aku juga bersekolah di SD yang persis berada di sebrang jalan samping rumah. SD.Bakaran, yang kebetulan juga tempat bapak mengajar. Pulang pergi sekolah, aku cukup menyebrang jalan.

SD Bakaran, letaknya di samping rumah Jl Rampai
Jika berasa lapar, aku segera berlari pulang untuk makan di rumah. Sejak kecil, ibu selalu melarang aku untuk jajan sehingga aku tidak pernah membawa uang jajan ke sekolah. Di rumah ini juga aku pernah mengalami "tersesat", tapi bukan di dalam kompleks.  Konon, sekali waktu, teman sebangkuku yang bernama Yulia, tidak masuk sekolah tiga hari lebih. Yulia tinggal di luar kompleks. Ketika masuk, Yulia menjelaskan sebab tidak sekolah karena ibunya baru saja melahirkan adik laki-laki. Woow... aku ingin sekali melihat bayi, adik laki-laki Yulia, yang menurut Yulia lucu sekali. Yulia dengan senang hati menawarkan untuk ke rumahnya. Aku bertanya, dekatkah rumahnya? Yulia bilang, dekat kok.. tiap hari juga Yulia jalan kaki pulang pergi sekolah. Aku tidak tahu kalau rumah Yulia di luar kompleks. Padahal untuk menuju gerbang keluar kompleks, ibu selalu menggunakan becak jika pulang berbelanja. Maka, pulang sekolah, tanpa pamit ke bapak, aku mengikut Yulia. Rupanya berjalan dengan teman asyik juga sehingga tidak terasa jarak yang sebegitu jauh bisa kami tempuh. Tentunya beberapa kali Yulia mampir di warung untuk jajan. Aku cuma bisa melihat karena aku tidak punya uang jajan.  Setelah berjalan cukup jauh, keluar kompleks, kami sampai di jalan raya, Yulia menyusur jalan raya cukup jauh, hingga sampai ke perkampungan di luar kompleks yang aku belum pernah kunjungi sebelumnya. Rumah Yulia terletak di dalam gang dan berbentuk rumah tradisional Palembang (rumah limas). Rumah panggung tinggi, tangga memutar menuju teras rumah.

Ilustrasi rumah Yulia (tapi itu bukan rumah Yulia lho.. cuma ya penampakannya mirip-mirip seperti itu lah)

Di kolong rumah, ada ayunan dan tempat bermain. Yulia mengajak aku naik dan tidak lama kemudian, keluarlah bapak dan ibunya. Bapak Yulia sangat ramah dan menawariku minum. Ibu Yulia datang sambil menggendong bayi dan memamerkan bayinya. Aku terkagum-kagum melihat bayi yang masih merah itu, yang kelihatan sangat lemah tapi lucu. Sementara aku melihat bayi, rupanya bapak Yulia sudah menyiapkan makan siang. Kami makan siang di ruang depan rumahnya yang dikelilingi jendela-jendela besar. Hidangan disajikan di piring-piring kecil, berupa masakan bersantan khas Palembang. Ada ayam masak nanas, sambal, dan lalapan. Setelah kenyang makan, Yulia mengajakku bermain dengan teman-temannya. Aku turun dan bermain di kolong rumah. Kami main ayunan dan petak umpet. Ketika lewat penjaja pempek keliling, Yulia menawari untuk membeli. Bapak Yulia membelikan sepiring kecil pempek dan aku makan sambil main ayunan. Rupanya azan Ashar sudah terdengar. Bapak Yulia mulai cemas dan mengingatkan Yulia untuk mengantar aku pulang. Sebelumnya, memang Yulia meyakinkan bapaknya kalau dia bisa mengantarkan aku pulang. Aku pulang diantar Yulia, tetapi, belum juga sampai di gerbang kompleks, Yulia berubah pikiran tidak jadi mengantarkan aku sampai rumah. Katanya capek dan tidak bisa mengantar jauh. Yulia bilang bahwa jalannya tidak susah, tinggal mengikuti jalan raya, hingga bertemu gerbang kompleks. Aku berjalan lagi, tidak punya pilihan, meskipun aku belum pernah sekalipun berjalan sendirian sejauh itu. Belum jauh aku berjalan, aku bertemu rombongan siswa kelas 6 pulang sekolah. Mereka menegurku.. lhooo kamu bukannya anak pak Guru? Iya.. aku bilang... mereka bilang.. harus segera pulang karena bapak sudah mencari-cari aku sejak siang tadi, dan seluruh siswa sekolah juga sibuk mencari. Mereka akhirnya berbalik mengantarkan aku kembali ke kompleks. Di tengah perjalanan aku bertemu bapak, yang rupanya sudah mendapat informasi bahwa kemungkinan aku ikut teman ke luar kompleks. Bapak mengayuh sepedanya cepat-cepat dan begitu ketemu aku, langsung aku digendong dan dipeluk bapak. Bapak menyimpan aku di boncengan sepeda dan segera mengayuh sepeda pulang ke rumah. Belum sampai di rumah, dari jauh aku melihat ibu berdiri di pagar halaman, melihat ke semua penjuru. Begitu terlihat sepeda bapak membonceng aku, segera ibu berlari menyongsong bapak. Ibu segera menurunkan aku dari boncengan dan menggendong hingga ke rumah. Ibu tidak marah, hanya mengingatkan aku untuk tidak ikut dengan sembarang orang. Ibu memandikan aku, menyisir rambut, dan menyuapi makan sore. Sejak saat itu, ibu selalu berusaha menyempatkan menjemput pas jam pulang sekolah.
Sebelum aku pindah ke Jakarta, sekali waktu rumahku dipakai latihan "Gambus" oleh murid-murid Bapak. Aku lihat mereka berlatih setiap siang hingga sore dipimpin oleh bapak. Mereka menyanyikan lagu-lagu Qasidahan. Karena sering mendengar, lama-lama aku hafal lagu tersebut. Aku bertanya, untuk apa Pak? Kata Bapak, mereka akan tampil di pembukaan acara olahraga di stadion Pertamina Bagus Kuning (Stadion Patra Jaya).  Ketika hari tampil tiba, mereka juga berkumpul di rumah, dan berganti kostum. Aku kagum dengan kostum yang mereka pakai. Rupanya mereka menggunakan kostum bergaya Aladin lengkap dengan sorban dan sepatu yang melengkung ujungnya. Bapak mengijinkan aku ikut ke stadion. Sampai di stadion aku juga terkagum-kagum melihat penampilan mereka. Mereka tidak hanya bernyanyi, ada juga yang memainkan tarian dengan pedang-pedangan. Aku bertahan di stadiun dan ikut rombongan bis pulang kembali ke kompleks. Aku selalu ingat bis yang digunakan untuk menjemput rombangan tersebut. Bis kecil berwarna biru, dan bapak menyebutnya bis Rosa (kayaknya bis Mitsubishi Fuso Rosa, Mid series)
Aku tinggal di rumah itu hingga naik ke kelas 2 SD, dan sejak itu aku benar-benar dipindahkan ibu ke Jakarta, menyusul kakak-kakak yang beranjak kuliah. Sejak itu, aku tidak pernah kembali lagi ke Plaju. Pernah sekali aku berlibur ke Plaju ketika kelas 5 SD (1978). Kesempatan berlibur aku gunakan sebaik-baiknya untuk bermain sepeda (karena di Jakarta sulit lahan bermain sepeda yang aman), menggunakan sepeda onthel milik bapak, dan berenang. Sayang liburannya juga tidak lama. Setelah satu minggu, aku harus kembali ke Jakarta, dan kali ini aku benar-benar tidak pernah kembali ke rumah itu lagi. Ketika aku ke Palembang tahun 1987, ketika sudah kuliah, bapakku sudah tidak tinggal di kompleks itu lagi. Aku bahkan tidak sempat berkunjung ke kompleks dan sibuk mengunjungi kerabat yang lainnya.
Anehnya, meskipun aku hanya tinggal sebentar di perumahan tersebut, kenangan akan setiap sudutnya terus membekas hingga kini. Aku masih ingat bak kamar mandinya yang sangat besar sehingga sering aku pakai "berenang". Aku juga ingat jendela kamarnya yang besar, dilengkapi terali besi, dengan daun jendela dari kayu berbentuk susun. Aku ingat semua pintu ke halaman belakang dibuat rangkap dua. Pintu kedua adalah pintu kawat nyamuk.  Aku ingat lemari tembok di ruang tengah, yang dilengkapi daun pintu besar, sering aku pakai mangkal untuk membaca buku cerita koleksi bapak. Aku ingat tempat tidur besar-besar dari besi, lengkap dengan lengkungan besi di atapnya untuk menyimpan kelambu. Sepulang sekolah, aku sering bermain dengan teman-teman. Kadang-kadang kami main hingga ke selokan besar di taman depan rumah. Di selokan itu, waktu itu, airnya cukup deras. Aku senang merendam kaki sambil duduk di tembok tepi selokan.

Napak Tilas

Setelah 27 tahun berlalu, akhirnya, September 2014, aku sempat berkunjung lagi ke Plaju. Rasa sensasinya sungguh luar biasa. Rasanya aku masih bisa mencium bau masakan ibuku. Rasanya aku masih bisa mendengar derit sepeda bapakku ketika pulang bekerja. Rasanya aku masih bisa melihat bayangan ibu hilir mudik masak di dapur, merapikan ruangan tengah, menjahit, menyapu halaman. Di tembok rumahnya, rasanya aku masih melihat sepeda bapak tersandar. Haduuuh.. jadi super duper melow...

Bagaimana kondisi tempat-tempat tersebut sekarang?

Berikut beberapa foto yang sempet aku upload ke facebook waktu kunjungan ke Plaju, September 2014. Sisanya sebetulnya ada di laptop, tapi laptonya dicuri, dan belum sempat aku backup, jadi melayang juga foto-foto yang ada di laptop tersebut.
Sebagai ilustrasi, aku mengunjungi 4 tempat utama yang menjadi daerah permainanku dulu yaitu, rumah Jl. Bakung (1), rumah Jl.Rampai (2),  taman di depan rumah (3), dan SD (4). Rute ini aku tempuh dengan menumpang becak motor dari gerbang utama kompleks.  

Rute napak tilas ke Plaju

Rumah yang pertama aku kunjungi adalah rumah di Jl. bakung, Rumah ini sekarang kosong melompong tidak terawat. Dari luar masih tampak utuh, tapi di dalam sudah berantakan. Dinding, pintu, jendela dan lemari masih  utuh. Hampir semua kaca pintu dan jendela pecah. Di bagian dalam, tampak berserakan sampah dan beberapa tanaman liar menerobos masuk. Di halaman belakang, nyaris tidak terlihat halaman dan tiang jemuran, karena tertutup rumput ilalang setinggi orang dewasa. Demikian juga jalan ke arah dapur dan kamar mandi.    Dari gambar dapat dilihat, rumah sebelah juga kosong tak berpenghuni, dengan beberapa bagian genteng rontok.Sebetulnya ada foto-foto halaman samping dan bagian dalam rumah, tapi terbawa di laptop yang hilang.  Rumah di depan rumah ini juga ada yang kosong tak berpenghuni.

Rumah Jl. Bakung.
 Dari rumah jalan bakung, aku jalan sedikit menuju rumah jl.Rampai. Rumah ini sebetulnya tidak menghadap jl.Rampai. Rumah ini lebih beruntung dibandingkan rumah jl.Bakung, karena sampai sekarang masih ditempati dan terawat rapi. Pagar tanaman di halaman depan dipangkas pendek dan pohon-pohon mangga di samping rumah sudah tidak ada.



Dua foto di atas adalah penampakan rumah Jl.Rampai sekarang (2014)

Pohon tempat aku main ketika kecil, latar belakang adalah foto sekolahku dulu, SD Bakaran, yang sekarang sudah berubah menjadi bagian dari gedung Politeknik
Abaikan penampakan di depan ya... tapi aku suka sekali foto ini, itu adalah pohon yang sama yang sering kujadikan tempat bermain ketika kecil. Di samping kanan ada selokan besar, tempat aku menangkap ikan. Tampak belakang adalah deretan rumah-rumah yang masih terawat rapi.

Namanya juga kenangan.... banyak orang berusaha menghabiskan upaya dan energi mengejar kenangan tersebut. Bagiku, rumah Plaju akan tetap aku kenang, dengan segala kesederhanaan bapak dan ibu, dengan segala kelembutan kasih sayang ibu dan bapak.

Tidak ada komentar :